Category Archives: Info Sanggar

MEREKA YANG HIDUP SEDERHANA

JANGAN  KARENA  MELIHAT KEMISKINAN DAN DERITA ORANG LAIN, SEBAGAI ALASAN  KITA UNTUK BERSYUKUR, SEBAB MUNGKIN SAJA BAHWA KITA ADALAH SEBAGAI SALAH SATU PENYEBABNYA.

JANGAN KARENA MELIHAT ORANG LAIN YANG LEBIH SENGSARA SEBAGAI ALASAN KITA UNTUK BERSYUKUR, MUNGKIN SAJA JUSTRU DIA YANG BERSYUKUR SEBAB TIDAK MENJADI ORANG SEPERTI KITA.

JANGAN TERLAMPAU CEPAT MENGANGGAP KESEJAHTERAAN YANG KITA RASAKAN SEBAGAI TERKABULNYA DOA DAN KESALEHAN KITA, KARENA MUNGKIN SAJA BAHWA HAL TERSEBUT MERUPAKAN SEBUAH UJIAN BAGI KITA.

uasana senja yang sangat indah, karena pancaran cahaya lembayung menghiasi seluruh jagat raya. Terdengar pembicaraan antara Bu Puspawati dan Bu Wandasari terlihat sangat asyik, yang kadang-kadang pembicaraan tersebut terdengar diselingi oleh gelak tawa yang riang dari keduanya. Walapun para perempuan itu sudah ditinggal lebih dulu oleh suaminya menghadap kepada Sang Pencipta atau dengan perkataan lain sudah berstatus janda, namun mereka terlihat senang karena memang hidupnya sudah serba berkecukupan.

sulungku, Anggarasa dan istrinya. Aku merasa senang karena sekarang posisinya di perusahaan tempatnya bekerja dia sudah menduduki sebuah jabatan penting, demikian juga dengan istrinya di kantornya,” cerita Bu Puspa dengan bangga.

“Aku pun demikian juga Bu. Walaupun semua anakku masing-masing sudah berumah tangga, namun mereka masih memperhatikan orang tuanya. Dan setiap bulan rekening tabungan ibnya selalu bertambah,” kata Bu Wanda juga anak-anaknya yang sudah sukses bekerja di kota.

“Wah….hebat putra-putri Bu Wanda semuanya sudah sukses dan mungkin sebentar lagi aku juga akan menikahkan anak perempuanku, Wulandari. Sudah akan dilamar oleh pimpinan atau direkturnya, hanya tinggal menunggu dan menentukan waktu yang baiknya.”

“Ya syukurlah kalau demikian aku ikut senangt. Kita semua ini termasuk orang yang berbahagia karena anak-anak kita bekerja di kota dan memperoleh pekerjaan yang mapan, hasilnya bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup, bahkan malah bisa disisihkan untuk mengurisi orang tuanya.”

“Ya. Memang demikian lah.”

“Eh….Bu Puspa, ini bukan mempergunjingkan hal yang jelek ya, coba Bu Puspa perhatikan, anak-anak Bu Laras. Tidak ada yang mau pergi merantau untuk mencari pengalaman. Sudah disekolahkan dengan susah-payah kok hanya terima hidup di sebuah desa yang kecil seperti ini, sayang sekali, kan ?”

“Benar. Sudarsana anak sulung Bu Laras itu hanya berjualan kupat tahu di depan Puskesmaas. Dan kebetulan menikah saja juga mendapatkan jodohnya dengan Sumiarsih, yang pekerjaannya jualan sayuran secara berkeliling. Jadi jelas kalau tingkat kehidupannya tidak akan pernah “berkembang”.

Sedangkan Suprasaja anak keduanya hanya cukup menjadi tukang tambal ban, tukang mengecat, tukang jual dan pasang stiker, yang penghasilannya pun tidak mempunyai standar kepastian.

Tetapi anak perempuannya yang bungsu, sekarang berada dimana ?”

“Ohh… si Kurniasih, dia masih kursus menjahit dan pulangnya seminggu sekali. Tetapi katanya dia sudah berani menerima order jahitan. Ah kalau demikian, dia itu terlampau berani.”

“Apa…..dia sudah berani menerima order jahitan ? Masih dalam kondisi kursus sudah berani menerima order jahitan ? Kalau memang begitu keadaannya, dia itu terlalu memaksakan diri.”

“Berita yang kudengar memang demikian adanya.”

Di tempat yang lain pada saat yang bersamaan, Ibu Larashati yang dijadikan bahan pembicaraan oleh kedua orang tersebut, itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan rutin yang dilakukan adalah membungkusi nasi kuning dan menyiapkan segala macam makanan atau jajanan seperti gorengan atau rempeyek, tempe goreng, tahu goreng isi, comro, katimus atau lemet dan lain-lainnya.

Dan setelah semuanya siap, kemudian dia pergi berkeliling untuk menitipkan barang dagangannya tersebut kewarung-warung dengan menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi agar barang-barang dagangan itu bisa terbawa.

Adapun jalur jalan yang dilalui ketika berkeliling juga melewati jalan di depan rumah Bu Puspawati yang kebetulan pada saat itu bersama Bu Wandasari sedang membicarakan tentang dirinya.

“Permisi Bu Puspa, Bu Wanda, saya numpang lewat,” demikian sapa Bu Laras kepada mereka.

“Ohh…ya….silakan. Wah rajin sekali Bu Laras ini, sudah sepuh kok masih juga mau bekerja. Kok nggak anak-anaknya saja yang mencukupi kebutuhan orang tuanya,” sahut Bu Puspa.

“He…he…, walaupun sudah tua tetapi saya masih tetap ingin bekerja, Bu. Untuk mengisi kekosongan waktu agar tidak diam melamun, atau malah menggunakan waktu dengan hal yang tidak penting” kata Bu Laras lagi.

“Apakah Bu Laras tidak pernah merasa lelah ataupun capai dengan setiap hari pergi berkeliling seperti itu, Bu ?” kata Bu Wanda yang ikut pula bertanya.

“Sebagai manusia biasa, mungkin juga ada rasa lelahnya, tetapi kalau semua itu dilakukan dengan ikhlas rasanya akan enak dan enteng saja Bu. Apalagi setiap saat saya berdoa semoga saya selalu diberikan kondisi badan yang sehat wal afiat untuk selamanya. Mohon maaf Bu, saya permisi akan melanjutkan perjalanan keliling untuk berdagang lebih dulu, ya Bu……”  kata Bu Laras.

Kemudian Bu Laras melanjutkan perjalanan kelilingnya untuk berdagang dan tidak lupa meninggalkan senyumnya, Bu Puspa maupun Bu Wanda juga membalas tersenyum namun kelihatannya secara terpaksa.

“Ahh….itu kan karena dia belum pernah mengalami permasalahan, coba saja kalau suatu saat kerepotan, misalnya saja sampai jatuh sakit sampai harus pergi berobat ke Rumah Sakit yang membutuhkan biaya tidak sedikit, dia pasti mengeluh dan akan berbeda sikapnya.”

Kedua orang tersebut kembali melanjutkan pembicaraannya lagi dengan topik atau pokok bahasan yang bermacam-macam, namun sebenarnya pada intinya tidak jauh dari saling menonjolkan keberhasilan anaknya masing-masing.

Waktu berjalan dengan tetap sebagaimana mestinya dan semua peristiwa yang terjadi silih berganti memenuhi hari-hari yang ada.  Ada yang merasa senang dan ada pula yang menderita. Dan memang demikianlah perputaran sang waktu itu berjalan.

Hingga pada suatu hari Bu Puspa menderita sakit. Awalnya kepalanya merasa pusing dan tanah yang dipijak seakan-akan bergoncang dan dunia rasanya perputar dan akhirnya sampai tidak sadarkan diri atau pingsan. Tetapi ketika sudah sadar dia mengetahui bahwa dirinya sedang dikerumuni oleh para tetangga dan juga oleh Bu Laras dan para anak-anaknya.

Kemudian Bu Puspa meminta tolong kepada yang hadir agar anak-anaknya yang berada di luar kota supaya diberitahu. Mendengar hal itu Sudarsana anak sulung Bu Laras dengan cekatan langsung memberitahu semua anak-anak Bu Puspa agar menjenguk ibunya yang sakit. Akan tetapi karena mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing maka pada waktu dekat ini tidak ada yang punya kesempatan untuk bisa segera datang menjenguk ibunya.

Bu Puspa merasa kecewa berat dan seketika itu juga kepalanya kembali merasa pusing dan berat, sehingga tidak sadarkan diri lagi. Atas inisiatif para tetangga dan Bu Laras dibawa ke Rumah Sakit dan harus masuk ke ruang IGD atau Instalasi Gawat Darurat.

Sementara Bu Puspa berada di Rumah Sakit, yang menjaga dan melayani adalah anak-anak Bu Laras. Sudarsana dan Suprasaja bergantian menunggu Bu Puspa yang kadangkala juga bergantian dengan Sumiarsih istri Sudarsana. Tetapi pada hari Minggu, Kurniasih anak bungsu Bu Laras mendapat giliran menunggu Bu Puspa di opname di rumah sakit.

Kurang lebih selama sepuluh hari dirawat dirumah sakit, mengenai pembiayaan tidak ada permasalahan karena tabungan Bu Puspa dapat dikatakan lebih dari cukup untuk keperluan berobat. Sampai dengan sudah diperbolehkan pulang ke rumah, anak-anaknya Bu Puspa belum ada yang bisa datang menjenguk, karena memang pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan.

Sampai di rumah Bu Puspa merasa heran, karena keadaan rumah menjadi bersih. Ternyata Bu Laras yang mengurusi kebersihan rumah selama Bu Puspa sedang dalam perawatan di rumah sakit.

Bu Puspa tidak kuat menahan rasahatinya yang ditandai dengan mengalirnya air mata dari sudut mata tuanya, dan dalam hatinya timbul penyesalan karena merasa telah melakukan kesalahan yang besar kepada Bu Laras sekeluarga yang selama ini selalu dipandang sebelah mata sebagai orang rendah dan remeh, ternyata malah membantunya dengan rasa yang tulus.

“Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih, Bu Laras. Saya tidak bisa membalas kebaikan keluarga ibu. Dan saya pun meminta maaf yang yang sebesar-besarnya karena banyak kesalahan yang ku lakukan terhadap ibu dengan keluarga,” kata Bu Nana kepada Bu Laras.

“Ahh…sudahlah Bu Laras, tidak usah berbicara seperti itu. Dan memang sudah seharusnya kalau bertetangga itu harus saling tolong menolong sesuai dengan kebisaannya masing-masing. Seperti apa yang telah di Sabdakan Nya agar manusia itu saling cinta dan kasih kepada sesamanya,” jawab Bu Laras sambil menggenggam erat tangan Bu Puspa.

Ada rasa tenteram yang merambah ke dalam jiwa Bu Puspa waktu itu yang sulit untuk bisa dikatakan.

Pada hari-hari selanjutnya, Bu Wanda baru saja pulang dari Luar kota segera menjenguk Bu Puspa.

“Wahhh…. Kok nggak ada berita kalau sakit ? Sekarang bagaimana kondisi Bu Puspa ?” tanya Bu Wanda.

“Sebenarnya saya sudah berusaha untuk memberitahu Bu, tetapi ketika saya telepon tidak pernah bisa nyambung, sepertinya saat itu Bu Wanda betul-betul sedang sibuk,” kata Bu Puspa.

“Ya mohon maaf Bu Puspa, saya kebetulan memang bebar-benar sangat sibuk, karena adikku ketika hajatan menikahkan, ternyata…secara besar-besaran dan mewah ! Oleh karena itu setiap kali telepon berdering tidak pernah saya angkat, mohon maaf ya Bu,” sahut Bu Wanda.

“Ya sudahlah….nggak apa-apa, Bu Wanda.”

“Saya kasih tahu ya Bu, di pesta pernikahan anak dari adikku itu, semua keluarga diberikan pakaian yang seragam. Bukan dibelikan pakaian jadi tetapi dibelikan bahan yang kemudian dijahitkan, dan hasil dari jahitannya, wah… sudahlah……sangat memuaskan dan bagus sekali,” kata Bu Wanda sambil mengacungkan ibu jari tangannya.

Tahu tidak….. katanya sih ada yang mengatakan bahwa yang menjahit itu adalah si Kurniasih anaknya Bu Laras….. tetapi aku sendiri tidak percaya ! Mana mungkin baru saja belajar…belum lama kursus, kok jahitannya sudah bagusnya seperti itu……., waaaahh mbelgedes….., omong kosong…..!!!”

Bu Puspa hanya diam saja dan masih mendengarkan cerita Bu Wanda karena belum ada kesempatan untuk berbicara. Ketika kesempatan itu tiba maka kemudian Bu Puspa menceritakan tentang keadaan sakitnya, kalau semua yang mengurisi Bu Puspa adalah para tetangga utamanya adalah oleh Bu Laras beserta keluarganya.

“Ah…yang benar ? Masak iya keluarga Bu Laras yang mengurusi saat Bu Nana sakit ? Apakah putra-putri Bu Puspa sendiri tidak ada yang pulang ?” tanya Bu Wanda.

“Dan memang demikian kenyataannya, ya karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, oleh karena itu mereka tidak bisa pulang. Sedangkan mengenai cerita tentang Kurniasih yang menjahit pakaian itupun juga berita yang benar.

Dalam menjalani kursus dia lulus dengan nilai yang istimewa walaupun hanya dengan waktu singkat, hanya satu bulan, yang kemudian dijadikan tenaga pengajar di lembaga keterampilan tempatnya kursus.

Kemudian dengan sedikit-demi sedikit mulai membuka usaha jahitan dan ternyata sangat laris manis. Bahkan sekarang sudah mempunyai karyawati sebanyak delapan orang. Kalau disini malah tidak kelihatan menonjolnya, karena memang tempat usahanya berada di kota kabupaten.”

Bu Wanda hanya mendengarkan sambil melongoh, karena tidak mengira kalau dia akan mendapatkan penjelasan panjang lebar mengenai keluarga Bu Laras seperti itu dari Bu Puspa.

“Aku merasa telah membuat kesalahan kepada keluarga Bu Laras. Keluarga yang selama ini kurendahkan, ternyata malahan bisa memberikan rasa tenteram kepadaku. Ketika aku membutuhkan pertolongan, keluarga merekalah yang dengan tulus ikhlas menyisihkan waktunya untuk mengurusku.

Sudarsana dengan Sumiarsih istrinya ternyata merupakan orang cekatan dan cepat tanggap serta mampu memberikan keputusan yang tepat tanpa memikirkan untung dan rugi untuk dirinya sendiri.

Adapun Suprasojo sendiri merupakan seorang pemuda yang cerdas, pandai namun rendah hati dan tidak sombong, serta mau mengorbankan tenaganya untuk menungguiku dengan ikhlas. Terkadang dia bahkan bisa membuatku tertawa terbahak-bahak dengan cerita-cerita lucunya yang sederhana akan tetapi mengandung banyak makna…..

Aaaahhh…. waktu itu sepertinya aku sedang merasa sangat bahagia, apalagi ketika pada hari Minggunya datang Kurniasih yang bergilir menungguiku sambil memijit-mijit kakiku yang menyebabkan seluruh badanku terasa menjadi lebih enak lagi sehingga aku menjadi lebih cepat sembuh,” demikian cerita Bu Puspa.

“Lalu, semenjak Ibu Puspa dirawat yang mengurus rumah siapa Bu ?” tanya Bu Wanda.

“Bu Laras lah yang mengurus rumahku dan pada setiap hari selalu dibersihkannya,” jawab Bu Puspa.

“Wahh….ternyata Bu Laras itu orang yang baik sekali. Mendengar semua cerita itu aku juga merasa telah melakukan kesalahan, karena selama ini aku juga menganggap rendah keluarga Bu Laras, hanya karena tidak ada anak-anaknya yang bekerja di kota dan kelihatan  nyata berhasil secara materi.”

“Bu Laras itu ternyata orang yang selalu dekat dengan kebahagiaan. Walaupun nampak sederhana, anak-anaknya sudah bekerja semuanya. Kelihatannya memang sepele, sederhana, atau tidak seberapa, tetapi ketika dibutuhkan mereka bisa bersama-sama datang dan mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Bisa dikatakan bahwa Bu Laras memang tidak kaya dalam hal materi, tetapi kaya dalam bidang ketenteraman, karena selalu bisa dekat dengan anak-anaknya, dan hidupnya pun selalu dalam keadaan bahagia. Menurut apa yang diceritakannya bahwa selain bekerja dengan ikhlas, dia juga selalu bersandarkan kepada Sang Penguasa Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.

-o0o-

Reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran saja dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai oleh saudara pembaca semuanya yang saya hormati dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Saudaraku pembaca semuanya terutama dikalangan sendiri, melalui reka ceritera tersebut yang pada intinya adalah jangan membicarakan tentang kekurangan orang lain tetapi harus mengingat tentang kekurangan diri sendiri karena tidak ada manusia yang sempurna dan pada hakekatnya pada saat merendahkan orang lain adalah sebuah kesombongan dan hal tersebut menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Dengan perkataan lain yang bisa membuat nilai seseorang itu menjadi rendah adalah hanya dari perbuatannya sendiri.

Mudah-mudahan dari reka cerita tersebut diatas bisa di ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan bahwa dalam menjalani kehidupan didalam bermasyarakat dan tidak perlu merendahkan orang lain.

 

JANGAN MEMBICARAKAN KEKURANGAN ATAU KESALAHAN ORANG LAIN

Lidahmu jangan kau biarkan menyebut kekurangan orang lain, sebab kaupun punya kekurangan dan orang lainpun punya lidah. (Imam Syafi’i)

Yang tidak boleh dilupakan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang sempurna dalam segala hal dan selalu saja ada kekurangannya. Boleh jadi seseorang yang indah dalam rupa, akan tetapi mempunyai kekurangan dalam hal gaya berbicara. Sangat bagus dalam penguasaan ilmu, namun tidak mampu menguasai emosi serta mudah tersinggung dan sebagainya. Dengan perkataan lain bahwa kuat di satu sisi akan tetapi lemah di sisi yang berbeda.

Dan dari situ manusia harus pandai dan cermat mengukur timbangan penilaian terhadap orang lain. Apa yang menjadi kekurangannya dan mengapa bisa demikian, dan seterusnya. Seperti apapun keadaan orang yang sedang dinilai, namun sisi keadilan tidak boleh dilupakan walau terhadap orang yang tidak disukai sekalipun. Dan harus yakin kalau dibalik kekurangan seseorang pasti mempunyai kelebihan atau kebaikan di sisi yang lain, dengan perkataan lain bahwa manusia mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Dengan timbangan yang adil, maka penilaian akan bisa lebih bijaksana dan tidak dengan serta-merta menilai bahwa orang tersebut pasti salah. Mungkin saja ada sebab lain yang membuat dia seperti itu atau bahkan mungkin saja andaikata sebagai penilai berada pada posisi dan situasi yang sama, mungkin tidak akan lebih bagus dari orang yang dinilai. Karena itu, lihatlah terlebih dahulu kekurangan dalam diri kita sendiri sebelum memberikan penilaian tentang kekurangan orang lain.

Akan tetapi Ego manusia lebih cenderung untuk mengatakan kalau “sayalah yang lebih baik dari yang lain.” Dan Ego seperti inilah yang kerapkali membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan diri sendiri tidak pernah terlihat. Seperti sebuah peribahasa yang berbunyi “Kuman diseberang lautan tampak tetapi gajah dipelupuk mata tidak tampak”.

Dalam hidup bermasyarakat, manusia tidak akan pernah terlepas berhubungan dan berkomunikasi dengan manusia lainnya dan sebagian dari mereka, ada yang bisa menahan diri untuk tidak membuka dan membicarakan kekurangan orang lain, tapi ada juga sebagian dari mereka yang sulit menahan diri untuk tidak mengabarkan kekurangan seseorang kepada orang lain, karena lidahnya seringkali usil dan selalu saja tergelitik untuk menyampaikan isu-isu baru yang menarik.

Meskipun yang sebenarnya dia mengetahui, bahwa sesuatu yang menarik bagi orang lain kemungkinan merugikan bagi mereka yang dijadikan bahan pembicaraan. Di situlah diperlukan kebijaksanaan seseorang untuk mampu memilih dan memilah mana yang perlu dibicarakan dan mana yang tidak.

Oleh karena itu sebaiknya sebelum seseorang memberi penilaian terhadap kekurangan orang lain, lihatlah dengan jujur seperti apa keadaan dirinya sendiri, apakah lebih baik atau lebih buruk ? Dan apabila ternyata lebih baik maka bersyukurlah dan hal tersebut jangan menjadikan sombong akan tetapi apabila ternyata lebih buruk, maka segeralah bertobat dan memperbaiki diri.

-o-

Namun andaikata seseorang bisa lebih melihat kekurangan dan kesalahan sendirinya sendiri, maka pasti tidak akan mungkin disibukkan dengan mencari kekurangan dan kesalahan orang lain.

Dan sebagai kebalikannya, jika seseorang jeli dan banyak sibuk dengan mencari kekurangan dan kesalahan orang lain, kita pasti akan sulit meraba dan melihat  kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri.

-o-

Manfaat yang bisa dirasakan, apabila dalam hidup ini lebih banyak melihat, menengok, memperhatikan, meneliti kekurangan diri sendiri dibandingkan kepada orang lain, maka yang diperoleh adalah perasaan tenang, jiwa yang damai, dan mudah mendapat kecintaan dan penerimaan dari orang lain.

Akan tetapi sebaliknya, apabila seseorang yang lebih sibuk dengan  kekurangan dan kesalahan orang lain dibanding dengan melihat kepada  diri sendiri, pasti sulit untuk merasakan hati yang damai dan tenang.

-o-

Akibat dari perilaku melihat, menengok, memperhatikan, meneliti, mencari kekurangan dan kesalahan orang lain maka orang lainpun pasti cenderung tidak akan suka dengan orang yang mempunyai kebiasaan seperti itu.

Dan sebagai kebalikannya, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, akan mendorong orang lain juga untuk mencari kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukannya, meskipun kesalahan tersebut dilakukan di tempat yang tersembunyi dan menyebarkannya.

-o-

Sebuah pendapat yang mengatakan bahwa : “Orang yang paling banyak salahnya adalah orang yang paling banyak membicarakan kesalahan orang lain.”

Oleh karena itu harus menyadari, bahwa dalam dirinya sendiri ada banyak dan lebih banyak kekurangan dan kesalahan yang dimiliki daripada apa yang bisa dilihat dari kekurangan dan kesalahan pada diri orang lain.

-o0o-

 

KESOMBONGAN

Sombong, congkak, besar kepala, tinggi hati, kibr, takabur atau istikbar adalah merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasa bahwa dirinya lain dari yang lain atau mempunyai kebanggaan terhadap dirinya sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya serba lebih apabila dibandingkan dengan orang lainnya, misalnya lebih tinggi, lebih hebat, lebih bermartabat, lebih berpendidikan dan lebih lebih lainnya.

Sehingga seseorang itu bisa berperilaku :
* Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,
* Ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri,
* Tidak bisa menerima nasihat terlebih dari mereka yang status maupun umurnya yang lebih muda,
* Pendapatnya enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang pula dipertahankan dengan dalil atau aturan yang dipaksakan,
* Tersinggung ketika tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, atau mendapat tempat khusus dalam sebuah majelis,
* Tersinggung ketika title ataupun jabatan yang dimiliki tidak disebut,
Maka dapat dipastikan bahwa virus takabbur atau kesombongan telah meracuni diri seseorang tersebut.

 

Sikap sombong bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain yaitu : amal, ilmu, nasab, keturunan, kecantikan, kekuatan, kakayaan, kedudukan, pangkat dan lain-lain.

Dan kesombongan bisa saja terjadi di dalam lingkungan keluarga, sekolah,  masyarakat atau di manapun.

 

MENDETEKSI KESOMBONGAN

Sombong adalah sebuah Penyakit yang sering menghinggapi siapa saja tidak peduli apapun status maupun jabatannya, dan secara garis besarnya kesombongan dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat maupun faktornya :

Tingkat Ke Satu faktor Materi

Sombong disebabkan oleh Faktor Materi, dimana seseorang merasa dirinya antara lain :

Lebih kaya,

Lebih berkuasa,

Lebih tinggi jabatan,

Lebih rupawan dan

Lebih terhormat daripada orang lain.

 

Tingkat Ke Dua faktor Kecerdasan

Sombong disebabkan oleh Faktor Kecerdasan, dimana seseorang merasa dirinya antara lain :

Lebih rajin,

Lebih pintar

Lebih kompeten,

Lebih berpengalaman,

Lebih berwawasan dibandingkan dengan orang lain.

 

Tingkat Ke Tiga faktor Kebaikan

Sombong disebabkan oleh Faktor Kebaikan, dimana seseorang sering menganggap dirinya antara lain merasa :

Lebih bermoral,

Lebih pemurah,

Lebih banyak amalnya,

Lebih bersemangat berjuang dan beribadah,

Lebih banyak kontribusinya untuk umat,

Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil,

Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

 

Sombong karena Materi mudah terlihat, namun Sombong karena Pengetahuan, apalagi Sombong karena Kebaikan, agak sulit untuk dideteksi, karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus didalam bathin seseorang.

 

Untuk itu cobalah setiap hari, introspeksi diri sendiri, karena kadang seseorang butuh orang lain untuk mengintrospeksi diri, seseorang butuh kritikan dan masukan dari orang lain. Setiap hal yang baik dan yang bisa di lakukan segeralah lakukan serta hendaknya banyak-banyak bersyukur supaya tidak menjadi buta dengan kepongahan dan kesombongan itu sendiri.

 

Kesombongan hanya akan membawa pada Kejatuhan yang semakin dalam, dan disamping itu Kesombongan juga tidak disukai baik oleh Penghuni Bumi maupun Penghuni Langit.

Jadi tetaplah Bersabar dan  Rendah Hati, sebab terkadang orang yang dihadapi ternyata jauh lebih hebat.

 

 

NASEHAT :

  1. Hendaklah kalian menjadi pelaku firman atau sabda dan bukan hanya sebagai pendengar saja, sebab jika tidak demikian kalian hanya menipu diri sendiri.

Jika seseorang hanya mendengarkan firman saja dan tidak melakukannya, ia dapat diumpamakan sebagai seorang yang sedang mengamat-amati mukanya di depan cermin dan baru saja ia memandang dirinya, kemudian ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

  1. Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terjadi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar bersemayam dalam hatinya. Inilah sifat yang melekat pada iblis. Sifat inilah yang berusaha ditransfer iblis kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya.

Sifat ini ditandai dengan ketidak siapan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain, keengganan melakukan instrospeksi, mawas diri atau muhasabah ; serta sibuk melihat aib dan kesalahan orang lain tanpa mau melihat aib dan kekurangan diri sendiri.

Oleh karena itu akan jauh lebih baik kalau mau mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri daripada mengarahkan telunjuk kepada orang lain.

 

ANEKDOT :

 

MIMIN MINTARSIH MENOLAK MENIKAH 

GARA-GARA UNDANGAN YANG SALAH CETAK

 

Sehari sebelum pelaksanaan pernikahan, Mimin Mintarsih terus-menerus menangis, dan seluruh keluarganya menjadi kebingungan.
Ibu : “Kenapa Teh Mimin kok malah nangis terus, kan mestinya hari ini Teteh bahagia….?
Mimin : “Batal saja Buu…bataaall saja !!”
Ibu : : “Lho besok kan sudah diresmikan perkawinan mu, koq minta dibatalkan … ?”
Mimin : “Ini buuu, tolong dibaca dulu dengan teliti undangan ini.

Di sini tertulis tuuhhh……!!!

“TURUT MENUNGGANG”

1. Pak Camat dan jajarannya

2. Pak Lurah dan jajarannya

3. Pak RW dan jajarannya

4. Pak RT dan jajarannya

Saya nggak mau Buuu…… Bener-bener saya nggak mauuu….”

 

BANDUNG – INDONESIA, DESEMBER – 2017

Cerita : Arya Pratama

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

ANAK KECIL DITENGAH HUTAN

HARUS JUGA DIKETAHUI BAHWA YANG HIDUP DI BUMI INI DISAMPING MANUSIA, HEWAN DAN TUMBUH-TUMBUHAN  YANG KASAT MATA TERDAPAT JUGA MAKHLUK LAIN YANG HIDUP BERDAMPINGAN DI BUMI YANG SAMA NAMUN KEBERADAANNYA TIDAK BISA DIJANGKAU OLEH PANCA INDERA MANUSIA.

MEREKA LAH YANG DISEBUT SEBAGAI MAKHLUK HALUS KARENA MEREKA ADALAH MAKHLUK YANG MEMPUNYAI WUJUD RAGA HALUS SERTA HIDUP DI ALAM HALUS ATAU ALAM GHAIB.

ANTARA ALAM GHAIB DAN ALAM MANUSIA MENEMPATI DIMENSI YANG BERBEDA, NAMUN BERADA PADA SATU TEMPAT SEHINGGA MEMUNGKINKAN ANTARA KEDUA MAKHLUK PENGHUNI BUMI INI BISA SALING BERSENTUHAN, BERSINGGUNGAN, BERTATAP MUKA ATAU BERINTERAKSI.

KEBERADAAN MAKHLUK GHAIB YANG AKAN BERSINGGUNGAN ATAU YANG AKAN BERINTERAKSI DENGAN MANUSIA BIASANYA SELALU MEMBERIKAN TANDA YANG MENJADI CIRI KHASNYA

eristiwa ini terjadi kurang lebih antara tahun 1960 an, dan di sebuah desa di bagian timur Pulau Jawa ada seorang Prajurit TNI Angkatan Darat yang berpangkat Kopral. Untuk lebih mudahnya orang tersebut di panggil saja dengan nama Mukidin.

Dikarenakan penghasilan sebagai tentara yang berpangkat Kopral saat itu dapat dikatakan jauh untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-harinya, maka pada suatu hari mertua Mukidin yang menjadi petani tembakau yang bisa dikatakan cukup sukses di desanya dan selalu memperhatikan kehidupan keluarga anaknya mengajak berbincang kepada menantunya.

“Mukidin, kesini sebentar Nak. Ada sedikit yang ingin Bapak sampaikan kepadamu,” kata mertuanya.

“Ya Pak silakan, ada masalah apa yang hendak Bapak sampaikan.” jawab Mukidin sambil langsung duduk dengan sopan didepan mertuanya.

“Begini, ada yang akan Bapak ceritakan. Kamu kan juga tahu sendiri kalau sawah dan juga kebun yang terletak di sebelah utara kampung ini belum sempat tergarap sama sekali sehingga nampak kotor karena tumbuh banyak rerumputan, oleh karena itu perlu dibabat dan dibersihkan.

Dan menurut pendapat Bapak, bagaimana seandainya lahan tersebut daripada menjadi lahan tidur dan tidak menghasilkan sepertinya akan lebih baik kalau kamu mau menggarapnya. Untuk itu silakan dipikirkan. Karena dilahan tersebut bisa ditanami palawija ataupun ditanami apa saja agar ada hasilnya dan bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga.”

“Ya Pak, akan saya pertimbangkan apa yang telah Bapak sampaikan,” jawab Mukidin.

“Sehubungan dengan hal tadi kalau nak Mukidin memang berniat mau menggarap lahan tersebut, mungkin akan lebih baik kalau nak Mukidin berhenti jadi tentara, agar bisa lebih focus. Tetapi Bapak juga berpesan, walau apapun yang akan menjadi keputusan atau peribahasanya mau begini atau mau begitu, mau merah atau mau hitam namun hal tersebut sebaiknya harus dibicarakan dengan istri terlebih dahulu,” demikian kata mertuanya.

“Ya siap Pak,” jawab Mukidin.

Kemudian apa yang telah disampaikan oleh mertuanya dibolak-balik dijadikan bahan pemikiran dan juga dipertimbangakan untung dan ruginya. Oleh karena istrinya pun setuju dengan rencana mertuanya tersebut akhirnya Mukidin mau mengalah dan memenuhi keinginan mertuanya untuk menggarap lahan sawah dan kebun serta mengajukan Pensiun Dini dari Dinas Ketentaraannya.

Sejalur dengan usaha mertuanya sebagai petani tembakau, maka lahan yang diserahkan padanya pun ditanami tembakau pula. Karena pada waktu itu usaha dibidang penanaman tembakau memang merupakan usaha yang paling lancar dan mudah untuk segera dinikmati hasilnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kemudian Mukidin dikenal oleh para petani sebagai pengepul tembakau yang sangat bisa dipercaya. Malahan Pak Kepala Desa sendiri yang mempunyai lahan terbesar di desa itu juga menyetorkan tembakaunya kepada Mukidin.

Kemudian Mukidin menyetorkan tembakau hasil pengepulannya ke BAT yang gudang dan kantornya masuk ke Wilayah Malang Selatan. Mukidin bekerja dengan rajin dan serius, karena menyadari bahwa dari usaha itulah dia bisa memberi makan, pakaian dan rumah untuk keluarganya.

Oleh karena kepercayaan diberikan maka kualitas tembakaunya pun selalu benar-benar dijaga agar jangan sampai mengecewakan, yang nantinya bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan tersebut. Apalagi mertuanya pernah berpesan yang selalu diingat dan dilaksanakannya yaitu harus selalu berhati-hati dan harus bisa menjaga kepercayaan yang diberikan. Hingga anak-anaknya kuliah usaha yang dikelolanya tetap aman-aman saja, dalam arti kata tidak ada permasalahan yang bisa mengganggu kelancaran jalan usahanya.

Pada suatu hari ketika Mukidin yang baru saja menerima uang dari Bendahara BAT sebesar Rp. 250.000,- sebagai pembayaran penyetoran tembakau hasil pengepulannya, akan tetapi sayangnya uang yang baru diterimanya tersebut tiba-tiba hilang begitu saja dengan tidak ada bekas-bekasnya sama sekali. Pada waktu itu uang sebesar Rp. 250.000,- sudah terbilang sangat banyak, sebab kalau diperbandingkan harga beras yang bagus pada saat itu hanya Rp. 5,- atau paling mahal juga Rp. 10,- per kilonya.

Dan uang sebanyak itu, semuanya adalah uang kepunyaan Bapak Kepala Desa, hasil dari penyetoran tembakaunya. Lantas yang menjadikan bingung adalah, harus mengatakan apa tentang uang tersebut kalau nanti sampai bertemu dengan Bapak Kepala Desa itu sendiri.

Perasaannya setelah menerima uang tersebut lalu disimpan di laci lemari pribadinya dan kuncinya pun tidak pernah lepas dari tangannya. Hatinya bingung dan pikirannya pun menjadi gelap seakan-akan berputar tujuh keliling, yang kemudian langsung duduk dan termenung. Karena tidak kunjung mendapat jawaban sebagai jalan keluarnya maka perasaan bingung tersebut lantas dibebaskan, karena tidak tahu harus berupaya yang bagaimana lagi.

Kemudian untuk menghilangkan rasa bingung tersebut, Mukidin mengeluarkan sepeda kayuhnya dan setelah berpamitan kepada istrinya karena sudah ada janji akan menghadiri pertemuan para petani tembakau yang dilaksanakan di kampung sebelah. Lalu dengan perlahan-lahan sepedah itu dikayuh sambil mengikuti perasaan hati.

Namun setelah dirasa-rasakan sepeda yang sedang dikayuhnya itu sepertinya ada yang menuntun dan mengarahkan, tetapi kemudian hal tersebut dinikmati saja. Hanya saja arah yang dituju tidak lagi mengarah pada kampung sebelah seperti yang telah direncanakan semula tetapi malahan menuju kearah Desa lain yang sangat jauh jaraknya. Dia terkejut setelah sadar akan keadan dirinya, hal itu terjadi ketika ternyata mendapatkan dirinya sudah berada di tengah hutan.

Sambil menengok kekiri dan kekanan untuk memperhatikan suasana disitu yang ternyata sangatlah sepi mencekam, dan keadaan yang dingin seakan menusuk tulang yang menyebabkan semua bulu di badan berdiri serta tidak terdapat makhluk lain terlihat walau hanya seekor lalatpun, padahal saat itu adalah tengah hari dan panas matahari pun sedang terik-teriknya.

Dalam keadaan yang sepi seperti itu, entah darimana munculnya karena tidak ketahuan dan tiba-tiba saja ada anak kecil yang mencegat perjalanannya. Dalam hatinya Mukidin berbicara sendiri : “Ini anak siapa ya ? Sampai hati benar orang tuanya melepas anak yang masih sekecil itu sendirian. Padahal ini kan berada di tengah hutan.”

Karena pada dasarnya Mukidin memang memiliki rasa senang menolong, maka anak kecil tersebut dinaikkan ke atas sepedanya. Begitu naik ke atas sepeda si anak kecil tadi langsung duduk di belakang tempat boncengan bahkan langsung menempel dan bersandar pada punggung Mukidin, sepertinya anak kecil tersebut takut terjatuh.

Dengan perlahan-lahan Mukidin mengayuh kembali sepedanya, tetapi setelah dirasa-rasakan seperti ada yang tidak wajar, ada yang aneh yaitu sepedanya terasa sangat ringan tidak seperti sedang membonceng padahal cara mengayuhnya pun asal saja.

Begitu melirik melihat ke belakang, anak kecil tersebut masih menempel di punggungnya sepertinya sedang tertidur dengan lelapnya dan seakan tidak peduli dengan kondisi jalan yang tidak rata dan bergelombang.

Kebetulan sekali di depan ada sebuah batu besar yang terletak di bawah sebatang pohon yang rindang dan kelihatannya bisa dipakai untuk duduk. Kemudian sepeda itu dibelokkan ke kiri sambil direm perlahan-lahan sampai berhenti. Begitu terasa sepeda yang dinaiki berhenti, anak kecil itu langsung terbangun sambil bertanya : “Kenapa berhenti disini Pak, kan tujuannya masih jauh ?”

“Iya nak, kita istirahat sebentar disini ya sambil makan dulu,” jawab Mukidin sambil mengeluarkan nasi timbelnya. Nasi tersebut tadi dibelinya di warung pinggir jalan hanya untuk jaga-jaga atau persedian, dan yang sebenarnya Mukidin sendiri adalah orang yang senang melakukan puasa, utamanya puasa Senin-Kamis yang tidak pernah terlewatkan.

“Ayo kita makan dulu ya Nak, di bagi dua dengan Bapak ya, masing-masing kita makan sebagian,” kata Mukidin kepada anak kecil tersebut sambil membuka bungkusan nasi timbelnya.

“Enggak usah Pak, saya masih kenyang. Kalau Bapak sudah merasa lapar, silakan Bapak saja yang makan, saya akan menunggu,” jawab anak kecil tersebut dengan jelas sekali.

“Kalau Anak tidak mau makan, Bapak juga tidak jadi makan. Ayolah kita makan bareng-bareng,” ajak Mukidin sambil agak memaksa. Tetapi si anak kecil tersebut tetap bertahan tidak mau diajak makan.

Dirasakan ada yang aneh, Mukidin sendiri menjadi hilang selera untuk makan, padahal sejak tadi sudah diniati akan makan walaupun hanya sesuap. Mukidin mendadak tidak merasa lapar sedikitpun, lalu nasi timbelnya dibungkus kembali seperti semula dan kemudian dimasukkan lagi kedalam rangselnya.

Kini pikirannya melayang jauh dan teringat pada uang yang hilang dengan cara yang tidak jelas, dan bagaimana nanti cara menjelaskannya kalau sudah berhadapan dengan Bapak Kepala Desa. Bapak Kepala Desa itu sendiri adalah sosok orang yang sangat dihormati oleh segenap masyarakatnya, dan lengkap segala sesuatunya. Orangnya tegas, disiplin dan sangat berwibawa. Bisa saja Mukidin menceritakan hal yang sebenarnya terjadi serta berjanji kapan akan membayarnya. Akan tetapi kalau memakai cara yang demikian, apakah nantinya tidak akan menjadi permasalahan dan sebagai akibatnya akan kehilangan kepercayaan.

“Pak….!” tiba-tiba anak kecil yang diboncengnya itu mengajak bicara, dan mengejutkan Mukidin yang sedang melamun.

“Ya, ada apa Nak, nanti sebentar lagi,” jawab Mukidin untuk menutupi rasa terkejutnya.

“Begini Pak, kalau saya perhatikan kelihatannya Bapak sedang mempunyai permasalahan, coba ceritakan pada saya barangkali saja dengan kehendak Allah saya bisa membantu,” kata anak kecil itu seperti yang tahu kalau Mukidin sedang mengalami kesusahan.

Mukidin baru menyadari kalau anak kecil yang diboncengnya itu bukan anak kecil sembarangan, anak kecil yang mempunyai kelebihan yang berbeda dengan umumnya anak manusia biasa.

“Begini Nak, saya mau menceritakan masalah yang telah terjadi asalkan Anak juga mau terbuka, siapa kamu yang sebenarnya dan dari mana asalmu,” jawab Mukidin.

“Ya bolehlah Pak kalau begitu maunya. Kita adalah sama-sama makhluk Allah, hanya berbeda alam. Kebetulan kita memeluk agama yang sama, mengenai nama tidak perlu disebutkan, hanya umur saya saat ini 3.500 tahun. Bagaimana Pak, apa yang sekarang bisa saya bantu ? Saya rela, saya ikhlas Pak, dan hanya untuk sementara saya ingin ikut Bapak, syukur-yukur kalau saya bisa membantu apa saja sekiranya diperlukan,” jawab anak kecil itu. Sekarang Mukidin sudah bisa mengatur jalan pikirannya dan menjadi tenang.

“Begini Nak, saya baru saja kehilangan uang dengan cara yang tidak jelas dan jumlahnya terbilang cukup besar yaitu Rp. 250.000,- Yang menjadikan saya bingung karena uang itu adalah kepunyaan Bapak Kepala Desa, yang harus saya setorkan hari ini juga.

Kalau dia sampai tahu uangnya hilang, entahlah tidak terbayangkan bagaimana marahnya Bapak Kepala Desa itu nanti, karena Bapak Kepala Desa itu sudah sangat percaya kepada saya dan lagi Bapak Kepala Desa itu adalah sahabat dekat mertua saya. Terus terang saja saya takut kehilangan kepercayaan darinya,” cerita Mukidin dengan terpaksa menceritakan peristiwa yang terjadi sebenarnya.

“Oh…masalah itu. Sekarang coba Bapak ingat-ingat lagi. Kapan Bapak menerima uang, lalu disimpan dimana atau bahkan sudah disetorkan kepada Bapak Kepala Desa. Coba diingat-ingat lagi,” kata anak kecil itu yang mencoba mengurai kejadian untuk mencari jalan keluarnya. Sekarang ganti Mukidin yang harus berpikir keras untuk mengingat-ingat bagaimana  peristiwa tersebut sampai terjadi.

“Pada hari Jumat kemarin, saya menerima sejumlah uang hasil penyetoran tembakau kemudian uang tersebut saya simpan di laci lemari dan saya kunci, adapun kuncinya terus saya bawa dan tidak pernah saya letakkan. Selesai malaksanakan sholat Jumat saya rebahan, mungkin karena kelelahan tanpa terasa saya tertidur hingga sampai waktu ashar. Begitu terbangun saya segera mengecek keberadaan uang tersebut di laci lemari, maklum karena itu adalah uang orang lain, nah dari situ saya menjadi sangat terkejut mengapa laci lemari menjadi bersih dan uang yang berada didalamnya pun lenyap. Saya kebingungan, siapa yang telah mengambil uang orang lain tersebut. Wah.., kalau demikian kejadiannya berarti di rumah ini ada sesuatu yang nggak wajar,” begitu penjelasan Mukidin.

“Nah kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke rumah Bapak Kepala Desa, barangkalai saja Bapak Kepala Desanya ada di rumah dan tidak sedang bepergian,” saran anak kecil tersebut.

Seperti kerbau dicocok hidungnya, Mukidin menurut saja dan kemudian menaiki sepedanya lagi. Seperti tadi pada waktu mengayuh sepedanya tidak ada rasa lunglai, lelah, lapar ataupun rasa-rasa lainnya. Singkat cerita sampailah Mukidin pada tempat yang dituju dan dari kejauhan terlihat Bapak Kepala Desa yang sedang sibuk memperhatikan pegawainya dalam memilah-milah tembakau, bahkan sambil begurau. Karena terdengar suara-suara tertawa mereka.

“Aehhh…Bapak Kopral Mukidin, silakan masuk kedalam. Mari jangan sungkan-sungkan,” kata Pak Kepala Desa sambil menggandeng lengan Mukidin yang terlihat ragu-ragu.

Mukidin hanya diam membisu, karena kebingungan yang memenuhi pemikirannya, harus bilang bagaimana nanti kepada Pak Kepala Desa. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama Pak Kepala Desa yang masih terus aktif berbicara dan sulit untuk dipotong pembicaraannya.

“Kemarin saya telah menerima kiriman uang dari Anda. Hanya dalam hati saya berpikir ‘cepat sekali.’ Oleh karena itu saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih, bahkan pegawai yang mengantarkan uang setoran pun saya beri persenan,” kata Pak Kepala Desa.

“Iya, Pak Kepala Desa,” hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan oleh Mukidin.

“Dan untuk sekarang jangan dulu terburu-buru minta dikirim tembakau lagi ya, kan Anda juga menyaksikan sendiri bahwa tembakau tersebut belum jadi. Tunggu sajalah kurang lebih tiga hari lagi tembakau tersebut sudah siap untuk dikirimkan,” demikian kata Pak Kepala Desa, yang semakin menambah kebingungan Mukidin.

Pak Kepala Desa kemudian mengeluarkan dompetnya serta mencabut beberapa lembar uang kertas dari dalamnya yang kemudian diberikan kepada Mukidin sambil berkata : “Ini ada sedikit Rejeki jangan ditolak dan lagi bukannya saya mengusir. Karena anak Anda sudah menunggu ayahnya pulang dan minta untuk diajak jalan-jalan serta jangan lupa mertua juga harus sering ditengok. Katanya sudah ada seminggu ini cucunya belum datang menengoknya,” kata Pak Kepala Desa lagi.

Mukidin menurut saja seperti seekor sapi yang sedang dituntun, setelah menerima uang pemberian Pak Kepala Desa langsung berpamitan pulang bahkan sampai terlupa tidak mengucapkan terima kasihnya.

“Pak, sekarang sudah tidak ada yang harus menjadi beban pikiran. Yang jelas uang Bapak tidak jadi hilang,” kata si anak kecil itu sambil kembali merangkul punggung Mukidin.

Dalam hatinya, Mukidin berpikir : “Siapa yang sudah menyerupakan dirinya dan menyerahkan uang setoran kepada Pak Kepala Desa ? Ataukah saya sendiri yang sudah lupa ? Tetapi saya hakkul yakin kalau uang sebesar Rp. 250.000,- itu belum pernah saya setorkan kepada Pak Kepala Desa. Ah sepertinya si anak kecil ini yang sudah melakukannya.” Setelah itu Mukidin kini tidak memikirkannya lagi, hanya di dalam hatinya dia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sebagaimana permintaan awal sebagai perjanjian, maka kemudian si Anak kecil itu pun ikut Mukidin dengan waktu yang cukup lama. Sampai pada suatu ketika anak kecil itu berpamitan mau pulang ke tempat asalnya karena akan mempunyai istri.

Mukidin menyetujui dan mengijinkan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih karena selama ini sudah dibantu dengan sukarela oleh Anak kecil itu.  Sebagai akhir cerita diberitakan bahwa Mukidin meninggal pada tahun 2007 pada usia 83 tahun, sedangkan istrinya meninggal pada tahun 2010. Keduanya dimakamkan di desanya.

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka ceritera itu yang pada intinya adalah untuk mengetahui bahwa di bumi yang sama ini terdapat makhluk halus yang hidup berdampingan dengan manusia yang setiap saat bisa berhubungan, namun manusia itu sendiri harus selalu bersikap waspada agar jangan sampai terjebak oleh tipu muslihatnya yang licin dan sangat halus.

Dari reka cerita tersebut bisa kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

Tentang Makhluk Ghaib

Seperti hal nya manusia, makhluk ghaib juga adalah makhluk ciptaan Tuhan, hanya saja bedanya adalah mereka tinggal pada dimensi yang tidak sama dengan manusia dan juga tidak terlihat olah mata lahir karena bersifat ghaib, namun mereka bisa melihat manusia akan tetapi manusia tidak bisa melihat mereka.

Bagi manusia yang mempunyai kemampuan supra natural atau kelebihan apabila dibandingkan dengan manusia pada umumnya, akan bisa melihat atau mendeteksi keberadaan makhluk ghaib tersebut baik dengan mata lahir maupun dengan mata batinnya, namun itupun tergantung pada tingkat ketajaman inderanya.

Oleh karena keberadaannya yang tidak terlihat oleh mata lahir manusia yang awam, maka jika akan berinteraksi dengan manusia biasanya mereka selalu memberikan tanda yang menjadi ciri khasnya dan manusia bisa mengenali tanda-tanda kehadiran makluk ghaib tersebut cukup hanya dengan menggunakan indra penciuman atau indra perasa saja.

 

Tanda-tanda kehadiran Makhluk Gaib yang bisa ditangkap oleh indera manusia.

Berikut ini adalah beberapa tanda yang bisa menyatakan kehadiran atau keberadaan makhluk ghaib di sekeliling manusia, yaitu  antara lain :

1. Kehadiran Makhluk Halus yang dapat diketahui melalui indra penciuman, yaitu berupa bau-bauan atau aroma, misalnya minyak wangi, dupa, menyan, daun pandan, bau busuk dan lain-lain.

Dengan menunjukkan bau-bauan itu mungkin bisa dikatakan bahwa mereka telah bertindak sopan atau mungkin sebagai pengganti kata permisi untuk memberitahukan kehadirannya, karena mereka menyadari bahwa kehadirannya tidak tampak oleh mata lahir manusia.

Dan bau-bauan itu bisa diibaratkan seperti bau keringat pada manusia yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain.

Sehingga ada orang yang membagi dan menjelaskan bahwa dari jenis aroma atau bau-bauan yang terendus oleh indra penciuman manusia itu biasanya menggambarkan jati diri, tempat tinggal maupun yang membedakan dari golongan atau kelompok mana makhluk halus tersebut, antara lain sebagai berikut :

a. Bau harum bunga.

Bau bunga kamboja biasanya merupakan tanda bagi kemunculan kuntilanak, harum munga melati biasanya menandakan hadirnya peri atau jin perempuan atau leluhur manusia yang sudah meninggal dunia.

b. Bau minyak wangi

Bau minyak wangi seperti bau minyak kesturi, bau minyak jafaron dan lain-lain hal tersebut menandakan kehadiran makhluk ghaib atau makhluk halus dari bangsa jin atau khodam.

c. Bau kemenyan.

Jika ada seseorang mencium bau kemenyan yang secara tiba-tiba muncul, ada yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tanda kehadiran leluhur atau nenek moyang manusia yang sudah meninggal dunia.

d. Bau ketela, kentang bakar atau ketela, kentang rebus.

Bau kentang, ketela atau ubi bakar maupun kentang, ketela atau ubi rebus biasanya menjadi ciri khas kehadiran makhluk ghaib dari golongan genderuwo atau gandarwa.

e. Bau gosong.

Dikatakan pula bahwa bau tersebut menandakan munculnya arwah-arwah penasaran yang meninggal dunia karena kebakaran.

f. Bau amis atau hanyir darah.

Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut menandakan hadirnya arwah-arwah panasaran seperti korban kecelakaan atau korban pembunuhan.

g. Bau busuk

Jika ada orang yang mencium bau busuk pada saat berada di pemakaman atau di tempat tertentu lainnya maka jenis makhluk ghaib yang menyebarkan bau busuk menyengat hidung tersebut adalah hantu pocong atau makhuk ghaib lain yang bersifat kotor, jorok seperti wewe gombel dan lain-lain

-o-

2. Kehadiran atau Keberadaan Makhluk Halus yang tidak dapat diketahui lewat indra penciuman dan dapat diketahui melalui indra perasa, yaitu seperti bulu kuduk merinding, rasa panas atau dingin di bagian tubuh dan perasaan tidak nyaman lainnya, yaitu antara lain :
a. Perasaan ada mata yang melihat dan memperhatikan.

Pada suatu saat seseorang yang sedang sendirian, apakah pada saat duduk, tiduran ataupun melakukan kegiatan lainnya lalu merasakan ada mata yang selalu melihat dan memperhatikan semua gerak-geriknya, bisa juga diikuti dengan perasaan gelisah, hal itu berarti didekat nya ada makhluk ghaib.

Berdasarkan laporan sebagai pengalaman dari peristiwa yang dialami, pada umumnya Anak Murid Bayu Sepi yang Baru Belajar dan sedang berlatih baik pada siang terlebih lagi pada malam hari di rumah sendirian akan selalu mengalami hal seperti diatas yaitu diikuti atau diawasi oleh pandangan mata dari arah belakang.

Ada juga makhluk halus yang melihat dan mengawasi mereka yang sedang berlatih kalau diperhatikan lewat pandangan sudut mata atau tidak bebar-benar dilihat, akan nampak dalam bentuk bayangan yang sedang mengintip dari jendela yang terbuka atau dari balik jendela kaca, jika akan benar-benar dilihat dia berkelebat pergi, ada kalanya kemudian datang dan mengintip lagi.

Bahkan ada pula sosok yang selalu mengikuti dari belakang  kemanapun orang tersebut pergi dengan jarak tertentu sehingga terdengar dengan jelas suara hembusan napas maupun langkah kakinya, dan jika orang tadi berhenti melangkah maka makhluk tersebut juga ikut berhenti melangkah, sedangkan kalau ditengok kebelakang tidak ada siapa pun yang terlihat.

Mungkin maksud dan tujuan makhluk halus tersebut adalah untuk menggangu dan menghalangi dengan membuat rasa takut, risih, gelisah atau rasa tidak nyaman lainnya yang diikuti dengan berdirinya bulu kuduk dan lain-lain agar mereka yang sedang melakukan latihan tidak jadi meneruskan latihan atau batal melakukan latihan tersebut.

b Perasaan aneh pada saat memasuki sebuah rumah atau ruangan.

Merupakan salah satu tanda tatkala seseorang memasuki sebuah rumah atau ruangan lalu dia merasakan ada sesuatu hal yang aneh. Misalnya seperti secara tiba-tiba merasa takut, merasa khawatir, merasa tidak tenang atau perasaan buruk lainnya, yang tidak jelas penyebabnya.

Kalau perasaan seperti itu tiba-tiba terjadi atau muncul artinya bahwa di dalam ruangan itu ada makhuk ghaib baik secara sengaja ataupun tidak sengaja berada di ruangan itu.

c. Rasa panas atau rasa dingin

Rasa panas, hangat yang menyebar (ngaheap) atau rasa dingin yang tidak enak merupakan sebuah pertanda bahwa disitu ada makhluk halus ketika memasuki sebuah rumah atau sebuah ruangan, apalagi rumah atau ruangan tersebut sudah lama kosong, dengan perkataan lain tidak dihuni.

Bisa juga pada suatu ketika berada ditempat tertentu, tiba-tiba saja pada bagian badan merasakan panas atau dingin seperti yang dialami oleh Mukidin pada cerita “Anak Kecil di Tengah Hutan” diatas, hal itu biasanya merupakan sebuah pertanda adanya makhluk ghaib yang datang mendekati. Ada yang mengatakan bahwa rasa panas atau dingin itu tergantung dari niat yang terkandung oleh makhluk ghaib tersebut.

Andaikata sudah melatih dan memiliki kepekaan, maka bisa mendeteksi keberadaan makhluk halus tersebut yang salah satunya dengan melalui konsentrasi pada telapak tangan, maka akan merasakan adanya getaran-getaran atau seperti sengatan listrik namun lembut atau juga seperti kesemutan yang halus atau juga bisa merasakan panas dan dingin pada telapak tangan tersebut.

d. Rasa merinding atau berdiri bulu kuduk.

Rasa merinding, biasanya pada leher bagian belakang atau tengkuk menandakan adanya makhluk halus yang baru datang mendekati. Rasa merinding atau berdiri bulu kuduk/tengkuk ini mungkin hampir setiap orang pernah merasakannya karena hal tersebut adalah merupakan tanda yang paling umum dari kehadiran makhluk ghaib.

Rasa merinding dan kekuatannya juga bisa dibedakan.

Ada yang mengatakan bahwa :

*) Jika rasa merinding itu berasal dari sosok sukma atau arwah manusia  biasanya rasa merindingnya itu terasa tajam menusuk.

*) Jika rasa merinding itu berasal dari adanya sosok kuntilanak biasanya kadarnya ringan, merindingnya hanya membuat rasa takut yang biasa saja.

*) Akan tetapi jika rasa merindingnya itu berasal dari adanya sesosok bangsa jin biasanya rasa merindingnya terasa berat dan rasanya seperti “mencengkeram”, bahkan ada yang sampai membuat orang lemas ketakutan walaupun orang tersebut belum melihat sosok wujud makhluk ghaib itu.

Biasanya semakin tinggi kekuatan makhluk halus atau makhluk ghaib, maka pancaran energinya juga semakin besar dan tajam, akan tetapi pancaran energi itu juga akan semakin halus atau lembut sehingga sulit untuk dilihat dan sulit dirasakan apalagi kalau pancaran energy tersebut tidak menimbulkan rasa merinding, maka keberadaannya tidak akan terasakan atau sulit untuk dideteksi.

Dan secara alami pada umumnya jati diri dan keberadaan makhluk halus memang tidak ingin diketahui oleh manusia.

e. Hembusan angin

Jika ada seseorang yang secara tiba-tiba merasakan ada hembusan angin yang lewat di samping badan atau hembusan pada kaki, seperti ada yang meniup dan diikuti dengan meremangnya bulu kuduk atau pada tengkuk/leher bagian belakang, hal itu merupakan sebuah pertanda kalau ada makluk gaib yang sedang berada di dekat nya.

f. Rabaan atau Sentuhan

Bisa juga bentuk interaksi makluk halus yang di rasakan itu seolah-olah seperti ada yang menyentuh tangan, leher, mencolek pundak atau bagian tubuh lainnya, padahal tidak ada seorangpun yang berada di sekitar itu.

g. Suara dan kejadian-kejadian aneh.

Salah satu cara makhluk halus untuk menunjukkan keberadaan dirinya dengan menggunakan suara, misalnya saja ketika seseorang sedang sendirian tiba-tiba saja mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, suara dari keran air yang mengalir, seperti ada yang sedang mengambil air wudhu, dan sebagainya. Namun ketika diperiksa, ternyata tidak seorangpun berada disana bahkan lantai kamar mandi itu sendiri dalam keadaan kering, tidak basah sedikitpun.

Masih dengan menggunakan pola suara, misalnya saja tendengar suara gaduh atau ribut, suara yang aneh atau mengetuk pintu dari dalam lemari atau bahkan ada suara yang memanggil nama yang berasal dari lemari tempat menyimpan keris.

Yang dimaksudkan dengan kejadian-kejadian aneh adalah ketika melihat ada perabotan rumah misalnya kursi, gelas atau perabotan rumah lainnya yang berpindah tempat dengan sendirinya.

Untuk mengetahui keberadaan makhluk ghaib atau makhluk halus bisa juga dengan memperhatikan perilaku hewan-hewan yang ada, karena perilaku hewan bisa menjadi salah satu indikator atau tanda apabila ada makhluk halus di sekitar tempat itu.

Misalnya seperti cicak atau tokek, kucing yang tiba-tiba saja menjadi liar, anjing yang tiba-tiba mengonggong atau melolong, suara burung hantu, suara burung kedasih dan lain sebagainya.

-o-

Cara Mengatasi Rasa Takut Pada Saat Merasakan Kehadiran Makhluk Gaib.

Setelah mengetahui perbagai tanda yang ada tentang kehadiran makhluk ghaib baik melalui indra penciuman, indra perasa maupun dengan memperhatikan perilaku binatang yang ada, kemungkinan saja ada orang yang merasa takut dengan adanya hal-hal seperti itu.

Kemudian sebaiknya dengan cara apa yang harus dilakukan untuk bisa mengatasi rasa takut tersebut ?

Ada beberapa cara yang biasa dilakukan oleh orang yang merasa takut dengan kehadiran makhluk halus, antara lain :

a. Apabila rasa takut itu sangat mempengaruhi atau menguasai diri seseorang, sebaiknya harus segera pergi, menghindar atau dengan cepat meninggalkan tempat itu sebelum makhluk gaib tersebut menampakkan wujud dalam bentuk yang menyeramkan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan terjadi.
b. Ada orang yang mengatasi rasa takut ketika merasakan tanda-tanda kehadiran makhluk ghaib adalah dengan cara menarik nafas dalam-dalam lalu ditahan sebentar kemudian dihembuskan sambil mengucapkan salam.

“Asalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh..”

c. Orang yang beragama katholik dalam mengusir godaan, maupun mengusir pengaruh kuasa jahat dan mengatasi rasa ketakutan ketika merasakan adanya tanda-tanda kehadiran makhluk ghaib adalah dengan cara membuat tanda salib.
d. Sementara ada orang yang menggunakan cara lain yang bersifat pencegahan atau preventif yaitu dengan berdoa terlebih dahulu untuk Memohon Keselamatan dan Perlindungan Tuhan Sang Penguasa Alam Semesta sebelum melewati dan memasuki tempat-tempat yang  dianggap angker dan menyeramkan.

Dengan cara itu diharapkan perjalanan yang dilakukan dapat dihindarkan dan dijauhkan dari godaan dan gangguan para makhluk gaib yang berada ditempat yang dilalui.

Mungkin masih banyak cara yang dipergunakan oleh orang-orang di daerah-daerah yang berbeda untuk mengatasi rasa takut terhadap kehadiran makhluk halus di dekatnya yang disesuaikan dengan adat, budaya, keyakinan maupun agama yang dianutnya.

e. Bagi Anak Murid Bayu Sepi yang sering mengalami tanda-tanda kehadiran makhluk ghaib seperti tersebut diatas setelah diberikan beberapa petunjuk agar bisa memanfaatkan dan mempergunakan keadaan seperti itu sebagai sarana untuk berlatih yaitu mereka atau makhluk ghaib tersebut dipakai sebagai sasaran tembak atau sasaran gerak jurus. Dan biasanya yang terjadi adalah, bahwa makhluk ghaib itu akan segera pergi atau menghindar.
Pada dasarnya manusia itu mempunyai derajat yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan mereka atau makhluk ghaib namun masih banyak yang belum menyadarinya.

Apabila seseorang yang tidak bisa merasakan sendiri tanda-tanda kehadiran makhluk ghaib, biasanya yang menjadi penyebabnya adalah karena sedang banyak pikiran atau sedang banyak masalah yang dihadapi sehingga menyebabkan perasaannya menjadi tumpul dan tidak berfungsi.

 

Apakah boleh manusia menerima dan meminta bantuan makhluk halus.

Ada sebuah keterangan yang mengatakan bahwa : “Sebagaimana manusia menyembah hanya kepada Allah, maka meminta pertolongan juga hanya kepada Allah.”

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah : “Apakah manusia tidak boleh meminta pertolongan kepada selain Allah ?”

Ada yang menjelaskan bahwa manusia hanya boleh atau wajib meminta pertolongan hanya kepada Allah saja kalau hal tersebut memang hanya Allah saja yang bisa memenuhinya.

Misalnya :

Memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan,

Memohon panjang umur dan kesehatan,

Memohon kesembuhan dari penyakit yang diderita,

Memohon ketenteraman hati,

Memohon keselamatan di dunia dan akhirat,

Dan masih banyak lagi lainnya.

 

Kalau meminta hal-hal seperti yang tertulis diatas bukan kepada Allah, diperoleh sebuah penjelasan bahwa hal tersebut dapat dikatakan sebagai perbuatan menyekutukan Allah karena mempercayai/menyembah/meminta selain kepada Allah maka perbuatan tadi disebut dengan perbuatan Syrik.

Sedangkan orang yang melakukan Syrik disebut dengan Musyrik dan dalam ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Hadits dikatakan bahwa Syrik adalah merupakan dosa yang paling besar.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa : “Untuk meminta pertolongan sesuatu yang bisa dibantu atau dipenuhi oleh sesama makhluk Allah, baik oleh sesama manusia maupun oleh makhluk halus, asalkan saja dalam hal kebaikan. Hal tersebut diperbolehkan karena memang Allah telah taqdirkan mereka memiliki kemampuan untuk itu.”

Karena ada keterangan yang mengatakan sebagai berikut : “Dan saling tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa, jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Dengan catatan : Meskipun meminta pertolongan atau bantuan kepada sesama makhluk Allah karena dia memang mampu untuk mengerjakannya, namun kepasrahan dan ketawakalan hati hanya kepada Allah, karena hanya Dia saja lah yang Maha Berkuasa di atas segala sesuatu.

Namun demikian, walaupun dibantu oleh sesama makhluk yang memang mampu untuk itu belum tentu hal tersebut juga membawa hasil sesuai yang diharapkan.

Misalnya saja sebagai sebuah contoh :

Kalau ada orang yang sakit parah, walaupun sudah diupayakan secara medis dengan lengkap namun tetap saja orang tersebut tidak tertolong.

Jadi, kalau memang Allah tidak menghendaki, maka segala macam usaha maupun upaya sebesar apapun yang dilakukan, tidak akan pernah berhasil dengan perkataan lain bahwa tidak akan ada yang bisa membantu mendapatkan sesuatu sesuai yang diharapkan. Dan demikian pula sebaliknya, apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.

Secara singkat bisa dikatakan sebagai berikut : Manusia hanya diwajibkan untuk berusaha, namun Allah yang menentukan.

-o-

Kalau diperhatikan ada beberapa kegiatan meminta dan menerima bantuan dari makhluk halus, yang secara garis besar bisa dibedakan sebagai berikut :

1. Makhluk halus tersebut memberikan bantuan dengan sukarela atau dengan ikhlas tanpa meminta balasan apapun.

Sebagai contoh ;

Mungkin banyak cerita tentang orang yang dibantu oleh makhluk ghaib, yaitu ada yang disunat oleh makhluk ghaib, ada pula yang dibantu dalam melahirkan dan lain-lain yang beredar di kalangan masyarakat baik dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial dan yang akan kami sampaikan adalah sebuah kisah nyata yang dialami oleh kakak sepupu dari adik iparku.

Ceritanya adalah demikian, kakak sepupu adik iparku yang biasa dipanggil dengan nama Kang Uas pensiunan Pegawai Pos & Giro yang bertempat tinggal di daerah Jatinangor Kabupaten Sumedang, adapun kesenangannya suka mencari barang-barang bertuah atau barang-barang yang berbahu mistis, misalnya Merah Delima, Rantai Babi, Besi Kuning, Jenglot, Uang Ghaib yang dijaga oleh Jin dan lain-lain sebangsanya.

Dalam melakukan kegiatan tersebut biasanya dengan pergi kemana-mana selama berhari-hari, baik itu ke kuburan-kuburan atau tempat-tempat yang dianggap keramat dan sebagainya yang menghabiskan waktu, tenaga maupun materi yang tidak sedikit jumlahnya bahkan seringkali sebagai sasaran penipuan.

Pada suatu ketika sampai ke sebuah daerah pegunungan yang dianggap keramat di Sukabumi, yang rencananya akan menyepi atau bermalam di tempat itu untuk beberapa malam lamanya, namun pada malam yang ke tiga tiba-tiba ada suara keras yang menegurnya dalam Bahasa Sunda :

Arek naon sia datang kadieu ?”  pananya hiji sora.

Arek neang barang-barang ghaib,” jawab Kang Uas pondok bari rut-ret kakenca-kakatuhu neangan tisaha jeung timana datangna eta sora.

“Nanaonan sia datang kadieu jang neangan barang-barang anu  kitu patut, salah eta teh !” ceuk sora eta deui.

“Saha anjeun ?” Kang Uas balik nanya.

“Sia teu kudu nyaho saha aing, ngeun aing sarua jeung maneh, makhluk Allah, cicing dina alam anu beda. Lalampahan sia kitu teh salah, sesat, geura balik siah……!!!  Baliiiiikkkk……!!!

Adapun terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut :

“Mau apa kamu datang kemari ?” tanya sebuah suara.

“Mau mencari benda-benda ghaib,” jawab Kang Uas singkat sambil menengok kekiri dan kekanan untuk mencari dari siapa dan dari mana datangnya suara tersebut.

“Apa-apaan kamu datang kemari hanya untuk mencari benda-benda yang tidak ada gunanya seperti itu, perilaku yang begitu adalah salah,” kata suara itu lagi.

“Siapakah anda ?” Kang Uas balik bertanya.

“Kamu tidak harus tahu siapa saya, tetapi saya adalah sama dengan kamu, makhluk Allah, tinggal di alam yang berbeda. Perilaku kamu yang seperti itu adalah salah, perilaku yang sesat, cepat pulang kamu….!!!       Pulaaanngggg……..!!!.”

Karena suara yang menegur itu membentak dengan nada keras, agak kasar dan dalam jarak yang dekat, tetapi tidak ada seorangpun yang terlihat, maka sambil ketakutan dengan setengah berlari Pak Uas pun langsung pulang.

Disini nampaknya Pak Uas bertemu dengan makhluk ghaib yang baik dan makhluk halus tersebut membantu mengingatkan Pak Uas (manusia) agar tidak melakukan kegiatan yang salah dan bisa disebut dengan perbuatan yang sesat.

Namun andaikata ada makhluk ghaib yang secara terus-menerus mau membantu manusia dengan suka rela, akan tetapi lama-kelamaan karena kebiasaan maka lambat laun tanpa disadari mungkin saja keadaan tersebut bisa berubah dan menjadi tempat untuk bergantung bagi manusia itu dalam memenuhi kebutuhannya. Andaikata saja hal seperti itu sampai terjadi maka terjadilah sebuah kesalahan yang sangat parah.

Oleh karena itu disini manusia harus mempunyai sikap yang selalu waspada agar jangan sampai terjebak oleh tipu muslihatnya yang licin dan sangat halus, yang pada awalnya terasa tidak apa-apa dan menguntungkan tetapi kemudian pada akhirnya akan menyesatkan dan merugikan.

2. Makhluk halus tersebut menawarkan bantuan tetapi dengan suatu perjanjian, singkatnya manusia harus menyembahnya.

Sebagai contoh ;

Banyak didengar cerita mengenai makhluk halus yang menawarkan bantuan kepada manusia dengan meminta imbalan, namun cara yang dipergunakan tidak dengan tegas dan mengatakan kalau manusia yang dibantu harus menyembahnya, misalnya saja dengan kalimat seperti ini :

“Hai manusia segala keinginanmu dan segala keperluanmu akan aku penuhi, tetapi dengan satu syarat bahwa kamu harus menyembahku.”

Cara yang dipergunakan pastinya tidak akan pernah seperti itu, kalau makhluk halus tersebut dalam meminta imbalan dengan menggunakan cara yang demikian, maka orang yang belum paham benar dengan pelajaran agama pun pasti dengan serta merta akan menolaknya, karena terlalu kasar.

Tetapi kalau menggunakan cara yang lebih halus mungkin orang akan terjebak dengan tipu muslihatnya, sebagai contoh misalnya saja dengan kata-kata sebagai berikut :

“Hai manusia kita adalah sama-sama makhluk Allah namun berbeda tempat atau dimensi. Aku ingin membantu segala sesuatu yang menjadi kebutuhanmu dengan sukarela tanpa meminta sesuatu imbalan apapun. Sebagai sama-sama makhluk Allah memang kita harus saling membantu, dan sebagai makhluk Allah maka aku juga perlu makan, akan tetapi apa yang kumakan tidak sama dengan apa yang kalian makan, oleh karena itu aku juga memerlukan bantuanmu.

Adapun caranya membantuku adalah sebagai berikut, yaitu pada setiap hari A… kamu harus menyediakan kembang A…. menyalakan kemenyan atau dupa….dan membaca bacaan yang seperti ini bunyinya (tanpa memberi tahu artinya).….. dan itu cukup untukku.”

Mungkin dengan cara merayu yang seperti itu, maka akan banyak orang akan terkecoh oleh tipu muslihatnya. Mungkin juga kata-kata yang diucapkan tidak tepat seperti kata-kata diatas, tetapi akan lebih halus dan lebih licin.

3. Meminta bantuan makhluk halus dan makhluk halus itupun memberi bantuan tanpa menginginkan imbalan.

Sebagai contoh :

Dari sebuah cerita mengenai seorang manusia yang mempunyai teman jin, kemudian jin tersebut belajar ilmu agama kepada manusia tadi. Dan untuk selanjutnya setelah jin tersebut sudah menguasai ilmu agama yang dipelajari, lalu manusia yang menjadi guru agama itu meminta bantuan kepada jin tadi untuk menyampaikan syariat atau membantu dalam ketaatan kepada Allah kepada kaumnya. Kegiatan seperti ini yang boleh dilakukan.

Namun harus juga dibedakan dengan kegiatan yang tidak boleh dilakukan yaitu, apabila manusia meminta bantuan makhluk halus untuk menakut-nakuti orang, membantu mengambil harta milik orang lain, mengirimkan penyakit, bencana atau tenung, atau bahkan sampai membunuh, dan lain-lain perbuatan jahat, meskipun makhluk halus itu sendiri tidak meminta imbalan atas jasa yang telah dilakukan.

4. Dengan sengaja meminta bantuan makhluk halus walaupun harus dengan memenuhi berbagai persyaratannya.

Sebagai contoh ;

Dari sebuah cerita mengenai seseorang yang dengan sengaja pergi ketempat tertentu baik melalui seorang perantara ataupun secara langsung dikerjakan sendiri meminta bantuan makhluk halus meskipun harus dengan memenuhi berbagai persyaratan sebagai perjanjian, misalnya saja salah satunya dengan menggunakan cara mengurbankan nyawa manusia sebagai wadal atau tumbal untuk mendapatkan kekayaan atau terkabulnya semua keinginan atau terpenuhi segala kebutuhan duniawi dan lain-lain atau singkatnya makhluk halus tersebut sebagai tempatnya bergantung agar semua keinginannya terpenuhi.

Perbuatan semacam ini yang harus di jauhi dan tidak boleh dilakukan, karena kegiatan ini yang dinamakan dengan perbuatan syrik. Mungkin saja orang tadi percaya kepada Tuhan dan mengerti serta tahu tentang aturan agama yang dianutnya, namun apa yang dilakukan bertentangan dengan ajaran agamanya maka orang tersebut disebut dengan fasik.

 

Sebagai Catatan :  Pada kenyataannya memang sangat sulit untuk menentukan apakah yang berinteraksi itu adalah jin atau makhluk halus yang baik atau makhluk halus yang jahat yang siap dengan jebakan tipu muslihatnya.

Logikanya adalah sebagai berikut : Seorang manusia yang bergaul dengan sesama manusia yang bisa dilihat dan bertemu setiap saat, tahu rumahnya, tahu kebiasaan sehari-harinya, namun dibalik itu dia tidak akan pernah tahu apa yang terkandung di dalam hati temannya itu atau apa yang ada di dalam pola pemikirannya, yang terkadang bisa salah menilai atau terkecoh.

Apalagi kalau berhubungan dengan makhluk halus yang tidak bisa dilihat dengan nyata, tidak jelas tempat tinggalnya, tidak jelas kebiasaan sehari-harinya tidak bisa bergaul seenaknya pada siang dan malam harinya, maka kemungkinan akan terjadi kesalahan adalah sangat besar.

Saran : Sehubungan dengan hal tersebut diatas, kalau memang tidak mengerti tentang makhluk halus dan dunianya jangan sekali-kali mencoba untuk dengan sengaja melakukan interaksi dengannya agar tidak terjebak oleh tipu muslihatnya yang sangat ampuh sehingga salah langkah dan sesat. Karena kalau sudah terikat dengan mereka biasanya akan sulit untuk melepaskan diri.

Sebagai Kesimpulan : yang juga merupakan penutup dari tulisan ini.

1. Mengenai Cerita dan Uraian tentang “Tanda-tanda kehadiran Makhluk Gaib yang bisa ditangkap oleh Indera Manusia,” adalah sebuah tulisan yang didasarkan pada membaca, mendengar dan mengamati dari cerita, pendapat, pengetahuan serta pengalaman orang lain yang mungkin akan sulit untuk dilakukan pembuktian kebenarannya. Namun demikian penilaian dari tulisan tersebut diserahkan pada masing-masing yang pembaca.

2. Berdasarkan beberapa pendapat yang ada, yaitu ada yang mengatakan bahwa meminta bantuan kepada makhluk ghaib itu sama sekali tidak boleh, namun ada pula yang berpendapat bahwa meminta bantuan makhluk ghaib boleh saja asalkan tidak melanggar ketentuan agama yang berlaku, akan tetapi kesemuanya itu dikembalikan lagi dan terserah pada bagaimana menurut pendapat masing-masing yang membaca.

 

Sebuah Anekdot :

Asep jeung Ucing

Erna : “Kang piceun ucing teh, geuleuh…..”

Asep : “Kamari ku akang geus di piceun, tapi balik deui…balik deui..???

Erna : “Sing jauh atuh kang miceunna….!!”

Isukna Asep ngarungan ucing tuluy indit ka leuweung, 5 jam lilana, tileuweung Asep nelepon ke Erna…

Asep : “Nyi ucing teh aya ka imah deui teu….??”

Erna : “ Aya kang, kunaon kitu….?”

Asep : “Pangnanyakeun, tadi balikna jalan kemana kituh, ieu akang nyasab.”

Erna : “??? !!!”

 

Terjemahan bebas :

ASEP DAN KUCING

Erna : “Kang Asep, tolong buang kucing itu, jijik, geli  ah…..”

Asep “Kemarin kan juga sudah Kakang  buang, tapi kembali lagi…kembali lagi ???

Erna : “Kalau begitu buangnya yang jauh….!!”

Besoknya Asep memasukkan kucing itu ke dalam karung dan terus pergi masuk ke dalam hutan, kurang lebih 5 jam perjalanan.

Dari dalam hutan Asep menelpon Erna istrinya…

Asep : “Nyi, apakah kucing itu sudah ada di rumah lagi atau belum ….?

Erna : “Ya ada Kang, kenapa gitu ?”

Asep : “Tolong tanyakan, tadi pulangnya lewat jalan mana, Akang tersesat nih.”

Erna : “????? !!!!”

 

-o0o-

 

BANDUNG – INDONESIA, NOPEMBER – 2017

Cerita : Purwito

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

A Y A H

 

BERLATIH TIDAK MEMBENCI ATAU KESAL, DALAM KONDISI YANG TIDAK MENYENANGKAN, BERARTI MENINGGALKAN SIFAT RENDAH MANUSIA DAN MENUJU KELUHURAN HIDUP.

JIKA LATIHAN KELUHURAN HIDUP, BERUSAHA TIDAK MEMBENCI ITU BERHASIL; MANFAAT UTAMANYA PADA ORANG YANG MELATIH, BERIKUTNYA MANFAAT ITU KEPADA SIAPA SAJA YANG BERINTERAKSI DENGANNYA.

MENINGGALKAN SIFAT BURUK TIDAKLAH MUDAH, BAGI ORANG YANG BELUM TERLATIH, AKAN TETAPI KARENA SIFAT RENDAH ITU SENDIRI YANG MEMBUAT MANUSIA MENJADI RENDAH.

MAKA DARI PEMAHAMAN TERSEBUT ORANG TERMOTIVASI UNTUK BERLATIH MENGEMBANGKAN SIFAT LUHUR TIDAK MEMBENCI.

nak-anakku semuanya, Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Ayah tidak pernah mengandung kalian akan tetapi darahnya mengalir dalam darah kalian, dan darinya kalian diwarisi nama, kedermawanan dan kerendah hatian……

Demikian pula, bahwa Ayah pun tidak melahirkan kalian, namun suaranyalah yang pertama kali mengantarkan kalian kepada Allah ketika kalian baru lahir…….

Dan Ayah memang tidak menyusui kalian akan tetapi ketahuilah bahwa dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susu kalian……

Ayah pun tidak bisa menjaga kalian setiap saat, akan tetapi apakah kalian tahu bahwa dalam setiap doanya, Ayah tak pernah lupa menyebutkan namamu.…..

Tangisan Ayah mungkin tidak akan pernah kalian dengar karena dia ingin terlihat kuat, agar kalian tidak ragu pada saat berlindung dilengan dan didadanya ketika merasa tidak aman…..

Pelukan Ayah mungkin tidak sehangat dan seerat pelukan ibu karena cintanya dia takut tidak akan sanggup melepaskan kalian…..

Ayah ingin kalian kuat dan bersemangat, agar ketika kami ayah dan ibu sudah tiada, kalian sanggup mengahadapi semuanya sendiri…..

Yang ibu inginkan agar kalian tahu, bahwa cinta ayah sama besarnya dengan cinta ibu kepada kalian semua.

Anak-anakku semuanya……

Dari dirinya juga terdapat surga bagi kalian. Oleh karena itu hormati dan sayangi Ayah kalian karena Ibu adalah tulang rusuknya….

Seperti yang kalian ketahui, pada saat ini bahwa Ayah sedang menderita sakit yang tidak bisa dikatakan ringan, maka pada kesempatan ini Ibu meminta kalian semua sebagai anak-anaknya bisa berkumpul dan berbincang bersama untuk membahas tentang kesehatan Ayah, harus bagaimana yang sebaiknya,” demikian kata Ibu Sitoresmi kepada anak-anaknya.

Maka ke empat orang kakak-beradik yang sedang berkumpul, yaitu Ambarsari, Budiyanti, Citrawati dan Dimas Tejo yang kemudian bermusyawarah. Sitoresmi, Ibunyapun ikut pula hadir dalam pertemuan itu. Keberadaan seorang ibu dalam pertemuan tersebut diharapkan agar para putra-putrinya bisa dengan rukun, hidup berdampingan dan saling membantu untuk bisa mendapatkan cara untuk melepaskan ikatan permasalahan yang ada dalam keluarganya.

Adapun yang menjadi pokok bahasan dalam musyawarah tersebut adalah mencari jalan keluar bagaimana sebaiknya meringankan penderitaan Bapak Priambada, ayah dari ke empat orang kakak-beradik tersebut karena sakit ginjal yang semakin hari semakin bertambah parah. Bahkan sudah berkali-kali keluar masuk rumah sakit namun selama ini belum juga memperlihatkan tanda-tanda kesembuhannya.

“Adik-adikku semuanya, aku harapkan kalian semua mempunyai pendapat dan memperoleh cara bagaimana untuk bisa memperingan penderitaan Ayah. Dan ini yang menjadi tujuan utama diadakannya musyawarah.” demikian kata Ambarsari sebagai anak tertua yang membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

Citrawati hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa ekspresi, sedangkan Budiyanti dan Dimas Tejo memperhatikan dengan sangat serius dengan wajah yang tegang. Memang ke dua orang bersaudara ini sering sekali bertengkar karena perbedaan pendapat dan masing-masing mempertahankan pendapatnya.

Seperti sebuah pepatah yang mengatakan : “Bertahan pada pendapat masing-masing, tidak saja melukai keharmonisan, terlebih lagi akan menciptakan jurang yang sulit diseberangi.”

“Memperhatikan kesehatan Ayah yang semakin hari semakin bertambah parah, mungkin akan lebih baik kalau kita mempertimbangkan saran dokter yang merawatnya agar menggunakan cara lain, dengan perkataan yang berbeda tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan untuk memulihkan kesehatannya,” kata Dimas Tejo mengingatkan Mbakyu-Mbakyunya.

“Aku sendiri secara pribadi sangat setuju dengan saran dokter tersebut, karena Ayah memang memerlukan transplantasi atau cangkok ginjal. Menurut diagnose secara medis bahwa sakit Ayah sudah masuk dalam kategori Gagal Ginjal Tahap Akhir atau GGTA.

Dengan perkataan lain penyakit yang diderita Ayah sudah sulit untuk ditanggulangi dengan obat-obatan kecuali dengan cara cuci darah selamanya. Dan untuk itu pada setiap bulannya membutuhkan biaya kurang lebih enam puluh dua juta rupiah, sedangkan kalau untuk transplantasi atau cangkok ginjal memerlukan biaya yang lebih besar daripada itu, namun hanya sekali.

Selain dari itu yang harus menjadi bahan pertimbangan kita adalah, bahwa Ayah selalu mengeluh kesakitan ketika tiap-tiap kali berlangsungnya pelaksanaan cuci darah, hingga aku sendiri pun merasa tidak sampai hati jika mendengar dan melihat hal tersebut………,” lanjut Dimas Tejo.

“Apa….?  Transplantasi ginjal ?  Waduuuhhhh……berapa banyak pembiayaan untuk itu semua ?” tukas Budiyanti sambil memandang sinis kearah Dimas Tejo, yang belum sempat menyelesaikan perkataannya.

“Terus terang saja aku akui, dari ke empat orang anak Ayah, memang akulah yang paling sedikit dalam hal memberikan sumbangan, mungkin dapat dikatakan tidak ada artinya sama sekali, apabila dibandingkan dengan sumbangan yang diberikan oleh Mbakyu-mbakyuku semuanya.

Tetapi memang hanya sedemikian itulah yang bisa kuberikan menurut kemampuanku, namun aku sanggup mendonorkan ginjalku untuk Ayah. Kebetulan golongan darah Ayah dengan golongan darahku sama,” kembali penjelasan Dimas Tejo.

“Walaupun kamu sudah mendonorkan sebelah ginjalmu, tetapi juga masih harus memikirkan pembiayaan operasi dan keperluan lain-lainya yang menurut perkiraan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Aku juga bisa mendonorkan ginjalku untuk Ayah, tetapi aku tidak mau ikut pula menanggung pembiayaan lainnya,” tukas Budiyanti.

“Apakah sudah pasti kemauan Mbak Budiyanti demikian ? Kalau memang begitu baiklah.  Andaikata Mbak Budiyanti sudah bersedia mendonorkan sebelah ginjalnya untuk Ayah, biarlah kami tiga orang anak Ayah yang akan menanggung semua pembiayaan pengobatannya.

Dan kalau kemauan itu memang sudah bulat, maka sebaiknya mari kita berempat membuat perjanjian secara tertulis.

Tetapi perlu juga untuk dimengerti oleh Mbak Budiyanti, bahwa sebagai calon pendonor ginjal itu harus menjalani sebuah proses yang sangat panjang, yaitu kedewasaan, mental serta riwayat kesehatan diperiksa semuanya. Belum lagi diwawancarai oleh tim psikiatri untuk mengetahui tingkat emosional, intelektual dan kognitif. Apakah Mbak Budiyanti bersedia untuk menjalaninya ?” tanya Dimas Tejo.

“Untuk pembiayaan ini semua, kamu sudah mempunyai uang berapa banyak, Dimas ? Seharusnya kamu sadar diri menjadi orang, bisa mawas diri serta bisa mengukur berapa isi kantong atau berapa kemampuan keuanganmu. Jadi jangan mencoba untuk bermimpi yang bukan-bukan !” kembali tukas Budiyanti yang sangat menusuk hati dan perasaannya.

Hal tersebut dilakukan Budiyanti karena dia merasa bahwa apa yang dilakukan adik laki-lakinya itu hanya ingin memancing nafsu amarahnya serta mau menyudutkan posisinya saja. Memang apabila dibandingkan dengan yang lainnya, kehidupan Budiyanti dapat dikatakan paling berkecukupan atau paling mapan.

“Sekali lagi aku mengakui, diantara ke empat anak Ayah apabila dibandingkan hanya aku sendiri yang paling berkekurangan atau yang paling miskin. Entah sudah berapa kali, Mbak Budiyanti menuduhku tidak mau mengeluarkan pembiayaan untuk membantu pengobatan penyakit Ayah. Namun walaupun aku miskin, namun aku belum pernah sama sekali merepotkan Mbakyu-Mbakyu semua.”

“Sudah, sudah, dalam musyawarah jangan malah saling bertengkar,” kata Ambarsari untuk memberhentikan saudaranya yang sedang bertengkar sebelum Budiyanti sempat menjawab lagi.

“Baiklah kalau memang demikian, jika sudah tidak ada yang mau memperhatikan dan menerima pendapat serta keadaanku ini, mungkin lebih baik aku tidak ikut bermusyawarah,” kata Dimas Tejo sambil langsung berdiri.

“Dimaasss…..!!” teriak Ibu Sitoresmi, yang tujuannya akan menghalangi maksud Dimas Tejo anaknya, agar tidak meninggalkan tempat musyawarah tersebut. Akan tetapi Dimas Tejo tetap saja melangkah keluar tanpa menoleh lagi, walaupun mendengar teriakan ibunya. Kelihatannya Dimas Tejo sangat terluka hati dan perasannya.

Ibu Sitoresmi sangat sedih setiap kali anaknya saling bertengkar. Sebenarnya mereka masing-masing sudah berkeluarga dan diantara ke empat orang anaknya, memang kondisi kehidupan Dimas Tejo masih memerlukan bantuan. Untuk mengontrak rumah saja masih perlu dibantu. Sedangkan kehidupan tiga orang anak perempuannya  memang lebih mapan dan masing-masing sudah memiliki rumah tinggal sendiri serta kendaraan roda empat yang cukup bagus.

“Nah, itu lihat apa yang dilakukan Dimas Tejo, semua ini kan karena Dimas selalu diberikan perhatian yang lebih. Semenjak masih kecil apa yang menjadi keinginannya selalu dipenuhi. Makanya dia menjadi anak yang manja, oleh karena itu kuliahnyapun tidak selesai,” kata Budiyanti sambil menggerutu.

“Itu nggak benar, Budiyanti anakku. Ayah dan Ibu tidak pernah memanjakan dan tidak pernah membeda-bedakan atau berat sebelah dalam memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Kalian semua dirawat dan dibesarkan dengan perlakuan dan kasih sayang yang sama. Jika kalian semua sudah menjadi orang dewasa dan dikemudian hari mengalami kehidupan yang berbeda-beda itu adalah nasib manusia, karena keberuntungan, kemalangan, perjodohan maupun umur setiap manusia membawa kepastiannya sendiri-sendiri. Tetapi mengapa Budiyanti, kamu selalu saja memusuhi Dimas Tejo ?” tanya Ibu Sitoresmi.

“Ini kan karena Dimas Tejo pernah membuat marah dan kecewa dihatiku, Bu. Waktu itu hampir saja pernikahanku dengan Mas Wijayanto batal, karena ulah yang dilakukan oleh Dimas Tejo. Dan hal inilah yang menyebabkan rasa dendamku, karena sakit hati yang kurasakan saat itu masih terasa hingga sekarang.

Aku mendengar dengan telingaku sendiri ketika Dimas Tejo mengatakan kepada Ayah dan Ibu agar mempertimbangkan pernikahanku dengan Mas Wijayanto, karena adanya sebuah informasi bahwa Mas Wijayanto sudah mempunyai istri dan beberapa orang anak,” jawab Budiyanti.

“Tidak demikian Nak, itu tidak benar. Dimas Tejo tidak pernah mempunyai perilaku jahat seperti apa yang kamu perkirakan itu. Kamu hanya terbawa oleh prasangka jelek kepadanya,” demikian penjelasan Ibu Sitaresmi.

“Aku merasakan kalau apa yang dilakukan Ibu itu telah membeda-bedakan, pilih kasih. Ibu selalu membela Dimas Tejo, dan apa yang kulakukan tidak pernah ada yang benar dimata ibu. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Dimas Tejo selalu paling baik, memang Dimas Tejo adalah anak mama.” gerutu Budiyanti.

“Sama sekali tidak demikian,Budiyanti ! Seperti apa yang telah kita bicarakan dan dengarkan bersama dalam musyawarah tadi, menurut pendapat Ibu apa yang disampaikan oleh Dimas Tejo memang logis dan masuk akal. Dan andaikata Ibu sanggup, mengenai pembiayaan pengobatan Ayahmu akan Ibu tanggulangi sendiri seluruhnya, maka Ibu tidak akan perlu lagi merepotkan kalian semua.

Mengenai transplatasi atau cangkok ginjal memang membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Kalau memang hal itu merupakan satu-satunya solusi atau jalan keluar dalam rangka meringankan penderitaan Ayah, tentunya cara tersebut yang harus ditempuh. Ya harus bagaimana lagi,” demikian penjelasan Ibu.

“Pendapat yang disampaikan ibu itu kan disebabkan oleh karena Ibu sudah terlanjur percaya dengan apa yang telah dikemukakan oleh Dimas Tejo. Entah sudah berapa banyak Ibu telah menerima uang suap dari Dimas Tejo,” sahut Budiyanti dengan nada yang tidak enak.

“Budiyanti…..! Perkataanmu telah membuat rasa sakit di hati dan perasaan Ibu, Nak. Kalau saja Ayahmu mendengar pertengkaran anak-anaknya mengenai hal pengobatan ini, maka dapat dipastikan bahwa Ayah kalian tidak ingin lagi sembuh dari penyakit yang dideritanya,” sahut Ibu Sitoresmi.

“Sudah….. cukup ! Cukup sampai disini saja, kita tidak perlu lagi untuk melanjutkan pembicaraan atau musyawarah ini. Dan kamu Budiyanti, sekali-kali kamu tidak boleh berkata-kata yang bisa melukai perasaan Ibu seperti yang baru saja kamu lakukan,” tukas Ambarsari sambil memandang tajam kepada Budiyanti adiknya.

-o-

Pagi hari itu seperti hari-hari sebelumnya Dimas Tejo pergi bekerja dan berangkat dari rumah kontrakannya. Sebagaimana kebiasaan yang dilakukan, dia berangkat dan pulang dari bekerja selalu menaiki sebuah sepeda motor keluaran tahun yang sudah lama, dan itu merupakan satu-satunya kendaraan yang dimilikinya.

Memang sudah berkali-kali Bapak Priambada menyarankan agar Dimas Tejo mengendarai mobilnya. Sebenarnya Bapak Priambada membeli mobil itu, tujuannya memang untuk membelikan Dimas Tejo. Agar Dimas Tejo juga memiliki kendaraan beroda empat seperti semua saudaranya.

Akan tetapi Dimas Tejo hanya menyanggupi kalau mau menggunakan kendaraan itu, namun sampai dengan sekarang dia belum pernah mengendarai mobil pemberian Ayahnya tersebut.

Kembali pada alur cerita sebelumya. Baru saja Dimas Tejo dengan motor tuanya sampai dan berbelok memasuki pada Jalan Raya dan, tiba-tiba terdengar jeritan orang-orang yang berada disitu. Sepeda motor tua Dimas Tejo tertabrak dan terseret sejauh beberapa puluh meter oleh sebuah Mobil Tronton yang melaju dengan kecepatan tinggi mungkin sedang mengalami rem blong sehingga tidak terkendali.

Badan Dimas Tejo sendiri terpelanting jauh dan jatuh terhempas dengan kerasnya, terlihat pada kepala dan badannya berlumuran darah.

Ketika dalam keadaan kritis Dimas Tejo masih sempat berpesan dan minta tolong kepada petugas kepolisian yang menangani kecelakaan lalu-lintas untuk menyampaikan sebuah map berwarna hijau muda yang berisi surat-surat penting kepada dokter Mulyadi.

Mendengar berita bahwa Dimas Tejo meninggal dunia karena kecelakaan Ibu Sitoresmi menjerit histeris dan Bapak Priambada langsung pingsan. Ketika hari sudah agak siang datanglah seorang Petugas Rumah Sakit yang menuju ke Rumah Duka dan disambut oleh Ambarsari, Budiyanti dan Citrawati.

Kemudian Petugas Rumah Sakit menunjukkan bundel surat-surat resmi dan mereka bertiga sangat terkejut. Ternyata rancangan tentang operasi transplantasi ginjal Bapak Priambada sudah diatur oleh Dimas Tejo dengan teliti, rinci dan secara diam-diam.

Dimas Tejo sendiri sudah menjalani semua prosedure yang seharusnya ditempuh sebagai calon pendonor ginjal dan dokter juga telah memutuskan bahwa Dimas Tejo pantas dan tepat sebagai pendonor ginjal untuk Bapak Priambada.

Dokter juga menyarankan bahwa operasi atau transplantasi ginjal untuk Bapak Priambada agar segera dilaksanakan sebab Dimas Tejo sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Sambil menyampaikan surat-surat, Petugas Rumah Sakit itu juga menjelaskan kalau almarhum juga sudah menitipkan uang yang jumlahnya cukup guna pembiayaan berjalannya operasi hingga selesai.

Adapun surat-surat yang disampaikan oleh Petugas Rumah Sakit itu diterima oleh Ambarsari dengan tangan bergemetaran, dan mengenai isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

Ibu ku sayang, walau apapun yang akan terjadi saya harap operasi Ayah harus tetap dilaksanakan untuk trasnplantasi ginjalku. Menurut keterangan dokter, ginjalku sehat dan cocok kalau didonorkan untuk Ayah.

Aku bersyukur kepada Allah, bahwa aku telah diberikan sepasang ginjal yang sehat, apapun yang sudah menjadi kepunyaanku kemudian dibutuhkan oleh orang lain akan kuberikan, apalagi ini untuk Ayah yang sangat kuhormati. Aku sangat rela menyerahkannya agar bisa memulihkan kembali kesehatan Ayah.

Ibu, biaya untuk transplantasi atau cangkok ginjal yang telah berhasil saya tabung ini, saya peroleh dengan cara yang baik dan halal. Dan itu merupakan sebuah anugerah yang diberikan untuk keluarga kita.

Kalau Allah memang sudah berkehendak, maka tidak sesuatu hal yang mustahil bagiNya. Sehubungan dengan hal diatas dan uang yang sudah saya kumpulkan tersebut adalah agar tidak menjadikan beban bagi orang lain serta jangan sampai menumbuhkan permasalahan nanti dikemudian hari.

Salam bakti untuk Ayah dan Ibu.

Dengan air mata yang terus mengalir dan membahasahi pipinya, kemudian Ambarsari memberikan surat tersebut kepada Budiyanti, yang sejak tadi hanya berdiri mematung seperti orang yang linglung. Setelah membaca dan mengerti apa isi surat tersebut lalu Budiyanti berteriak keras : “Dimas Tejo…..,adikku. Maafkan aku Budiyanti Mbakyumu ……. yang telah salah menilaimu…..!” Lalu Budiyanti jatuh berdebum dilantai dan pingsan.

Mendengar suara ribut-ribut di ruang depan, Ibu Sitoresmi segera keluar namun tersandung badan Budiyanti yang tergeletak dilantai masih dalam keadaan pingsan, dan surat yang berada dalam genggaman tangan Budiyanti diambil, lalu dibaca. Ibu Sitoresmi pun menyusul ikut pingsan.

Bapak Priambada dengan terhuyung-huyung dan melangkah setapak demi setapak sambil berpegangan apa yang ada, menyusul keluar ke ruang tamu. Terkejut sekali Bapak Priambada ketika mendapatkan Sitoresmi istrinya dan Budiyanti anaknya tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Oleh Petugas Rumah Sakit, Bapak Priambada dibantu didudukkan di sebuah kursi yang ada. Dan setelah terlihat agak enak dan nyaman posisi duduknya, kemudian surat yang ditulis oleh Dimas Tejo diberikan kepada Bapak Priambada.

Selesai membaca isi surat tersebut Bapak Priambada diam dan  tertunduk lemas tanpa tenaga, dari wajahnya yang kuyu dan lesu terlihat hatinya sangat terpukul dan berduka yang sangat dalam, kemudian dengan perlahan dia berkata :

“Kasihan engkau Dimas Tejo, anakku lelaki,” gumamnya perlahan.

”Anak-anakku semua,  umur Ayah kini sudah 80 tahun…………..,

Ayah tidak lagi membutuhkan cangkok ginjal…………………….,

Ayah tidak memerlukan operasi……………,” katanya yang lalu berhenti sebentar, kemudian dengan perlahan-lahan mengatur pernapasannya yang tersengal-sengal seperti orang yang kelelahan.

Lalu lanjutnya kemudian : “Akan tetapi uang yang berhasil dikumpulkan dan ditabung Dimas Tejo akan jauh lebih baik jika uang tersebut dipergunakan sebagai biaya untuk membesarkan dan  menyekolahkan Maheswari, karena dia adalah keturunan almarhum.

Ayah sudah tua, mungkin akan lebih baik kalau Ayah juga menyusul Dimas Tejo….

Sitoresmi……,

Istriku yang kucinta, aku pamit untuk lebih dulu menghadap ke hadirat Nya. Semuanya kupercayakan kepadamu, dan terserah bagaimana caramu untuk mendampingi dan membimbing anak-anak……

Dimas Tejo……. Tunggu Ayah, Nak….!”

Setelah berseru agak keras, Bapak Priambada tertunduk dan langsung diam yang disertai hembusan nafasnya yang terakhir.

Orang tua tersebut sudah pergi dipanggil dan menghadap hadiratNya, bukan disebabkan karena penyakit gagal ginjalnya yang sudah kelewat parah, akan tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi kepastian untuknya.

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka ceritera itu yang intinya adalah untuk mengenal sosok dan kasih sayang seorang ayah serta menunjukkan bahwa pada setiap manusia baik itu laki-laki atau perempuan terdapat sisi baik maupun sisi buruk yang ingin menang sendiri dengan berbicara seenaknya untuk memuaskan hatinya tetapi malah melukai perasaan orang lain.

Mengenai isi dari reka cerita tersebut bisa kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

MENGENAL SOSOK DAN KASIH SAYANG SEORANG AYAH

*) Kalau berbicara mengenai kasih sayang orang tua, pada umumnya orang akan lebih banyak membahas tentang kasih sayang ibu daripada kasih sayang Ayah. Kasih sayang seorang ibu memang besar, tetapi bagaimana dengan kasih sayang seorang Ayah ?

Seperti apa yang dikatakan oleh Ibu Sitoresmi pada cerita diatas, Ayah adalah sesosok laki-laki yang patut untuk dikagumi sifat, sikap dan perbuatannya. Ayah memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarga dan kasih sayangnya juga tidak perlu diragukan lagi karena sama besar dengan kasih sayang seorang ibu namun dicurahkan dalam bentuk yang berlainan.

Mungkin dulu waktu masih sebagai anak kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajak bermain atau mendongeng. Akan tetapi apakah engkau tahu, bahwa setiap Ayah pulang kerja meskipun dengan wajah yang lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa saja yang telah kamu lakukan seharian itu ?

*) Ayah berharap anak-anaknya menjadi seorang manusia yang tidak rapuh, tidak nakal, menyalahi aturan, kuat, bertanggungjawab, dan menjadi manusia yang mandiri dalam menjalani proses kehidupan yang panjang serta berliku.

Proses tersebut membutuhkan banyak bekal diataranya sifat-sifat yang diajarkan Ayah sewaktu masih kecil dengan cara memarahi, memukul atau bahkan dengan memberi kasih sayang.

Untuk menjalani kehidupan yang tidak semudah seperti dalam bayangan atau dongeng, cerita, atau pula dengan bim salabim-abra kadabra semuanya langsung selesai. Karena semua jenis pekerjaan dan pilihan hidup membutuhkan keyakinan dan usaha. Dan hal tersebutlah yang selalu diajarkan Ayah pada anak-anaknya.

Sebagai sebuah contoh : Pada saat engkau masih sebagai seorang anak kecil, Ayah yang selalu mengajarimu naik sepeda. Setelah Ayah menganggapmu bisa, maka Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu.

Kemudian Ibu akan berkata : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya.”

Hal itu karena Ibu merasa takut kalau anak kecilnya yang manis akan jatuh dan terluka. Akan tetapi apakah engkau sadar, bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, mengawasimu dan selalu menjagamu dalam mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu bahwa anak kecilnya pasti bisa.

*) Ayah memilki tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Namun, selain itu Ayah juga memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah pada keluarga.

Karena fitrah Ayah yang tidak dapat melahirkan seperti halnya seorang ibu, maka kasih sayang seorang ayah akan diberikan dalam bentuk yang berbeda, yang semaksimal mungkin ingin memenuhi permintaan dan kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anaknya.

Seberapa pun rasa lelah yang dirasakan dan keringat bercucuran Ayah akan tetap bekerja. Walaupun tulang sudah mulai merapuh, kulit mengeriput, nafas sudah tidak lagi lancar dan kuat seperti dahulu namun Ayah akan tetap berjalan tegak mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pada saat anak kecilnya menangis dan merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatap dengan iba. Akan tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “Ya sayang nanti kita beli, tetapi tidak sekarang.”

Apakah engkau tahu, bahwa Ayah melakukan hal itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang harus selalu dapat dipenuhi ?

Namun ketika permintaanmu bukan lagi hanya sekedar meminta boneka baru, dan Ayah merasa bahwa ia tidak bisa membelikan apa yang kamu inginkan.

Apakah engkau juga tahu, bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

 

*) Sifat Ayah pada dasarnya adalah mengayomi, bertanggungjawab dan berusaha membuat anggota keluarga senang dan bahagia.

Mungkin Ayah pernah marah atau memukul anak-anaknya, tapi percayalah bahwa hal tersebut merupakan bentuk kasih sayangnya. Misalnya pada saat anak kecilnya sakit influenza, seorang Ayah yang terlalu khawatir dengan keadaan tersebut, akan menegur bahkan terkadang sampai sedikit membentak dan berkata : “Sudah dibilang ! Kamu jangan minum air dingin.”

Akan tetapi berbeda halnya dengan seorang ibu yang memperhatikan dan menasehati anaknya dengan lembut.

Namun harus diketahuil, pada saat itu seorang Ayah benar-benar menghawatirkan keadaan anaknya.

Pendidikan, pengetahuan dan pendapatan yang rendah tidak akan menghalangi munculnya sifat alami tersebut pada sosok seorang Ayah.

Kebahagiaan anggota keluarga adalah kebahagiaan dirinya. Itulah gambaran singkat sosok seorang Ayah.

-o-

JANGAN MERENDAHKAN ATAU MENJELEKKAN ORANG LAIN.

 

1.) Dalam hidup ini tidak perlu merendahkan atau menjelek-jelekkan orang lain, sebab orang yang baik tidak akan pernah merendahkan atau menjelek-jelekkan orang lain. Karena pada saat merendahkan orang lain maka hal tersebut menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Oleh karena itu tidak perlu merendahkan orang lain.

 

2) Mungkin banyak pihak yang berusaha untuk menjatuhkan seseorang, akan tetapi kemungkinan yang paling besar membuat seseorang tersebut jatuh adalah dirinya sendiri. Dengan perkataan lain yang bisa membuat seseorang itu menjadi rendah adalah hanya dari perbuatannya sendiri.

Oleh karena itu jangan pernah membuat nilai diri menjadi rendah hanya dengan sikap dan perbuatan sendiri. Maka dalam menjalani hidup harus menjaga sikap dan menjaga perbuatan, karena hal itu lah yang memungkinkan bisa merendahkan dan menjatuhkan diri sendiri.

 

3) Sebenarnya tidak perlu merendahkan orang lain dan jangan pula pernah menjelek-jelekan orang lain, meskipun menurut penilaian maupun kenyataannya bahwa perilaku orang tersebut memang buruk, rendah  dan tidak baik sekalipun.

Sebab yang bisa menilai baik buruknya seseorang hanyalah Tuhan. Dan sebagai sesama manusia  seseorang sama sekali tidak memiliki hak untuk menilai baik atau buruknya orang lain.

Sebaiknya kalau mengetahui bahwa hal tersebut tidak baik dan bertentangan dengan aturan yang ada maka tidak usah diikuti, akan tetapi kalau hal tersebut memang baik menurut penilaian manusia maupun aturan yang belaku, maka boleh untuk mengikutinya.

 

4) Sebagai manusia biasa tidak akan pernah lepas dari yang namanya kesalahan. Maka sebelum seseorang melakukan tindakan menjelek-jelekkan atau merendahkan orang lain, seharusnya ingat dan menyadari bahwa dirinya sendiri tidak selalu baik.

Kalau diri sendiri tidak selalu baik lalu untuk apa harus menjelek-jelekkan dan merendahkan orang lain.

Seseorang itu tidak perlu mengurus apa yang dilakukan oleh orang lain. Uruslah diri sendiri jangan pernah menilai apa yang dilakukan oleh orang lain. Lebih baik kesempatan yang ada dipergunakan untuk ngaca atau introspeksi diri, agar tahu kekurangan diri sendiri dan biar nggak sombong serta merasa dirinya yang paling benar.

 

5) Seseorang tidak akan pernah terlihat menjadi hebat atau namanya terangkat menjadi mulia dengan hanya merendahkan atau menjelek-jelekan orang lain.

Sekali lagi, karena pada saat merendahkan orang lain maka hal itu menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Oleh karena itu tidak perlu merendahkan orang lain, karena kegiatan tersebut adalah merupakan sebuah kegiatan yang tidak ada artinya atau kegiatan yang tidak menguntungkan.

 

-o0o-

 

BERHATI-HATI DALAM BERBICARA

Mengambil gambaran seperti pada cerita diatas, bagaimana Budiyanti yang berbicara seenaknya sehingga menyinggung dan menyakiti perasaan hati Dimas Tejo adiknya maupun Sitoresmi ibunya.

Dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat yang sangat majemuk dan kondisinya satu dengan yang lain tidak sama maka harus berhati-hati dalam berbicara agar tidak melukai hati siapapun.

Mungkin saja hal-hal yang menurut kita biasa saja misalnya dalam bentuk gurauan, lelucon ataupun candaan yang ceplas-ceplos malah melukai hati seseorang. Hal itu karena kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang lain pada saat itu.

Sekali salah dalam berbicara, maka ucapan itu tidak bisa ditarik kembali, maka sebaiknya akan lebih bagus kalau berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakannya kepada orang lain agar apa yang akan kita katakan itu tidak melukai perasaan siapapun.

Sekali bersalah mungkin orang masih bisa memaafkan namun hal tersebut tidak bisa dilupakan. Tetapi ada kalanya untuk memaafkan saja itu tidak mudah apalagi untuk melupakannya.

Oleh karena itu setiap orang harus menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyinggung ataupun melukai hati dan perasaan siapapun.

-o-

Berkaitan dengan hal diatas dalam Etika Jawa utamanya yang berhubungan dengan tata-krama orang berbicara, harus mengikuti 4 peraturan yang dikenal dengan “4 R” yaitu : ririh, ruruh, rereh dan respati.

Ririh : Kalau berbicara tidak keras, perlahan atau sedang saja, yang penting bahwa orang yang diajak berbicara bisa mendengarakan, itu sudah cukup. Jadi bukan berbicara dengan berteriak.

Ruruh : Dalam berbicara harus selalu menghormati siapa saja lawan kita bicara. Dalam hal berbicara itu harus menggunakan bahasa yang diatur, tidak asal berbicara.

Rereh : Artinya apa yang akan dibicarakan adalah hanya terbatas pada masalah yang perlu saja. Tidak usah muluk-muluk apalagi sampai dengan memberikan janji-janji.

Respati : Dalam hal berbicara dapat melegakan hati, menyenangkan hati atau bahkan dapat membuat gembiranya orang yang diajak bicara atau lawan bicara.

-o-

 

APA YANG AKAN DI LAKUKAN JIKA MELIHAT ADA ORANG  YANG MELAKUKAN KESALAHAN

Pada umumnya kalau tidak kenal dengan orang yang melakukan kesalahan, mungkin akan dengan mudah dan dengan lantang mengritik atau menjatuhkannya.

Namun apabila kenal dengan orang yang melakukan kesalahan tersebut , maka seringkali merasa enggan / takut / atau malah tidak berani menegur.

Adapun alasannya bisa bermacam-macam, misalnya takut menyinggung perasaan, menganggap bahwa hal tersebut bukan urusan dan tanggung jawabnya, atau karena tidak peduli.

Cukup sering terjadi, bukannya berbicara DENGAN orang yang melakukan kesalahan itu untuk mengingatkan, namun malahan bicara TENTANG orang tersebut dengan orang-orang yang lainnya.

Sebagai akibatnya, gossip terjadi dan keburukan tersebar, bahkan dengan disertai “bumbu-bumbu penyedap” sehingga menjadi semakin menghebohkan dan lain-lainnya.

Seharusnya sebagai sesama manusia kita juga turut bertanggung jawab untuk menjaga sesama kita supaya mereka bisa hidup baik sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.

-o-

 

Sebuah Humor :

IBU-IBU YANG KECOPETAN

Pada suatu hari di Terminal Angkutan Perkotaan ada seorang ibu-ibu yang sedang menangis sesenggukan, kemudian ditanya oleh seorang polisi yang sedang bertugas..…

Polisi : “Kenapa menangis, Bu……………..?
Ibu-ibu : “Uang saya, dua ratus ribu kecopetan.”
Polisi : “Uangnya disimpan dimana, Bu…………..?”
Ibu-ibu : “Ibu selipin di dalem kutang……”
Polisi : “Memang Ibu nggak kerasa waktu dirogoh…..?”
Ibu-ibu : “Kerasa sih kerasa, soalnya agak lama juga ngerogohnya…”
Polisi : “Lho, Ibu kok nggak berteriak sih……?”
Ibu-ibu : “Saya kirain nggak sambil nyopet, si kesebelan teh….!!!”
Polisi : “Ibu hapal nggak dengan tampang orang yang ngerogoh tadi…?
Ibu-ibu : “Hapal sekali……”
Polisi : “Ciri-cirinya bagaimana, Bu……..?
Ibu-ibu : “Cirinya persis seperti yang lagi baca…….!”
Polisi : &&&-@@@-###-$$$

 

-o0o-

 

BANDUNG – INDONESIA, OKTOBER – 2017

Cerita : Adinda AS

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

WAJAH MENGGUNAKAN PENUTUP

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

PADA SAAT SESEORANG SEDANG DUDUK SANTAI KEMUDIAN TIBA-TIBA TERPIKIRKAN INGIN BERBUAT SESUATU KEBAIKAN ?

SEBENARNYA ITU ADALAH TUHAN YANG SEDANG BERBICARA DAN MENGETUK HATI ORANG TERSEBUT.

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

PADA SAAT SESEORANG SEDANG BERSEDIH, KECEWA TETAPI TIDAK ADA ORANG LAIN DISEKITARNYA UNTUK MENUMPAHKAN KEGUNDAHANNYA ?

SEBENARNYA SAAT ITU TUHAN INGIN AGAR ORANG TERSEBUT BERBICARA KEPADANYA.

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

KETIKA SESEORANG DALAM SITUASI YANG BUNTU, SEMUA TERASA BEGITU SULIT DAN TIDAK MENYENANGKAN SERTA TERASA HAMBAR, KOSONG BAHKAN MENAKUTKAN ?

SEBENARNYA ADALAH PADA SAAT ITU TUHAN MENGIJINKAN  ORANG TERSEBUT DIUJI, AGAR SUPAYA MENYADARI KEBERADAAN-NYA. KARENA TUHAN TAHU BAHWA ORANG ITU SUDAH MULAI MELUPAKANNYA.

JADI UNTUK SEMUA PERISTIWA YANG TERJADI, ITU TIDAK ADA YANG TERJADI SECARA KEBETULAN, KARENA SETIAP LANGKAH MANUSIA DIATUR OLEH TUHAN.

 

angat jauh berbeda, apabila dibandingkan dengan waktu-waktu yang sudah lewat, sebab pada malam ini Sumanding merasa dirinya sedang mengalami nasib yang nahas atau sial. Karena dengan mengendap-endap di sudut-sudut desa seperti yang sudah biasa dilakukan, saat ini tidak bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.

lewat, sebab pada malam ini Sumanding merasa dirinya sedang mengalami nasib yang nahas atau sial. Karena dengan mengendap-endap di sudut-sudut desa seperti yang sudah biasa dilakukan, saat ini tidak bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.

Entah apa yang dapat dikatakan sebagai penyebabnya, tetapi yang jelas adalah pada setiap kali mengintai rumah yang akan dijadikan kurban atau mangsa, keberadaannya selalu saja diikuti oleh hadirnya suara burung uncuing atau bence yang tidak pernah berhenti berbunyi. Suara bercuat-cuit yang keras dan terkadang terbang berputar-putar yang mengitari keberadaannya sehingga membangunkan tidur si pemilik rumah.

Merasakan tentang keadaan malam itu, pemikiran Sumanding merasa tidak tenteram. Perasaan hatinya mengatakan ada yang salah atau ada yang kurang, padahal melakukan puasa sudah dijalankan, membaca mantera-mentera juga sudah dilakukan, persyaratan juga sudah dipenuhi bahkan menghitung keberuntungan berdasarkan perimbon kejahatan yang ada juga sudah tepat.

Namun malam itu tetap saja Sumanding merasa ada yang salah atau kurang lengkap. Entah, tidak tahu itu pada bagian yang mana atau apa penyebabnya, tetapi singkatnya perasaannya mengatakan ada yang kurang !

“Kang Sarma mengapa engkau memukul kentongan rumah dengan nada gencar atau titir, apakah ada tanda-tanda yang kurang bagus dan mencurigakan ?” begitulah kira-kira pertanyaan tetangga yang satu kepada tetangga yang lain dari dalam rumahnya masing-masing setiap ada suara kentongan yang dibunyikan berasal dari tetangga dekatnya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang didengarkan dan diperhatikan Sumanding dari tempat persembunyiannya di kegelapan malam, gerumbulan pohon perdu dipekarangan atau di pojokan rumah yang agak gelap karena tidak ada lampu penerangannya.

“Iya betul, Mas Triman. Semenjak sore tadi suara burung Uncuing atau Bence tidak kunjung berhenti dan tidak juga mau pergi dari kebun belakang rumah. Mari kita selidiki bareng-bareng,” jawab tetangga sebelah rumah.

“Baiklah kalau begitu, tapi sebentar saya mau ambil senter dulu sambil bawa padang untuk berjaga-jaga.”

“Ya, akupun mau membawa pentungan pemukul.”

“Busyeet…,” begitu bisik hati Sumanding, yang segera pergi meninggalkan kebun yang baru saja dipakai sebagai tempat bersembunyi. Dia bergeser perlahan lalu pergi mengikuti jalan setapak yang gelap di kebun tersebut dan meninggalkan tempat yang tadinya akan dijadikan kurban.

Setelah pergi agak jauh dari tempat yang akan dijadikan kurban Sumanding duduk dengan memeluk kedua lututnya dan berada ditengah-tengah gerumbul pohon bambu yang tumbuh di atas tebing pinggiran sungai. Keadaan sekitar itu sangat sepi serta gelap sekali dan Sumanding pun merasa aman dirinya bersembunyi di tempat itu.

Meskipun dalam keadaan yang sangat gelap karena memang sudah terbiasa beraktivitas pada malam hari dan selalu memperhatikan keadaan serta mengamatinya maka Sumanding pun hapal dengan cara-cara atau strategi petugas di setiap pos ronda bahkan sampai kebiasaan binatang yang biasa keluar pada malam hari pun tidak lepas dari pengamatannya.

Sumanding juga menguasai semua perhitungan tentang hari keberuntungan menurut rumusan perimbon penjahat. Hapal dengan semua mantra yang digunakan untuk melakukan pencurian serta menyiapkan persyaratan yang harus dipenuhi.

Walaupun pada malam itu sebelum berangkat bekerja menjadi seorang pencuri, Sumanding memang sudah menghapal semua rumusan atau perhitungan sial atau mujur seperti yang telah tercatat dalam perimbon penjahat. Tetapi apa yang diperhitungkan dan dihafalkan oleh Sumanding belum juga memperoleh hasilnya.

Bahkan sudah dua rumah yang akan dijadikan mangsa, dan apa yang sudah dilakukan tidak berfungsi sama sekali, sebab penghuni rumah terbangun dan bersiaga serta membangunkan para tetangga sebelahnya. Sedangkan menurut perhitungan perimbon, seharusnya malam itu dia berhasil. Akan tetapi pada kenyataan yang dihadapinya sangat berbeda dengan hasil perhitungan yang ada dalam buku perimbon tersebut.

Andaikata bisa melihat seperti pada keadaan siang hari, pastinya akan dapat melihat dengan jelas bahwa saat itu Sumanding sedang duduk terpekur dan termenung sebab sudah sampai lewat tengah malam dan hampir menjelang pagi dia belum memperoleh hasil apa pun juga. Sedangkan anak dan istrinya di rumah pasti sudah mengharap sekali akan hasil yang diperoleh dari pekerjaan mencuri pada malam hari itu.

“Apakah pada malam ini aku akan pulang dengan tangan kosong ?” tanya Sumanding dalam hatinya.

Andaikata malam ini pulang dengan tangan kosong, hidupnya dan semua keluarga akan sangat kerepotan karena hari itu sudah tidak mempunyai persediaan beras sama sekali. Bahkan semua bumbu untuk memasak juga sudah tidak ada yang tersisa sama sekali. Yang tinggal hanya gula pasir dan jumlahnya pun tidak banyak hanya cukup untuk membuat dua atau tiga gelas minuman. Dan gula itu sendiri sudah tidak ada yang menemaninya lagi seperti halnya ada teh atau kopi.

Jadi pada sore tadi pun sebelum berangkat dari rumah Sumanding hanya bisa nimum air putih hangat yang diberi gula pasir. Walaupun rasanya sangat aneh dan menyebalkan yang bisa membikin perut merasa mual karena memang bukan peruntukkannya, namun tidak pernah dianggap dan dipaksakan saja karena memang perutnya sudah terlanjur merasa lapar dan tidak ada sedikitpun cadangan bahan makanan yang tersedia.

Kemudian dia teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh istrinya : “Pak, kalau Bapak malam ini tidak berangkat bekerja, besok pagi kita sekeluarga akan kelaparan. Hidup kok serba susah seperti ini, ya pak,” demikian kata-kata istrinya malam itu sambil berlinang air mata karena menahan rasa sedihnya. Sumanding tidak  memberikan jawaban sama sekali sebab hatinya pun juga merasa pedih seperti teriris-iris serta menangis dalam hati.

Malam itu dengan kesedihannya sambil duduk termenung ditengah gerumbul pohon bambu keinginannya untuk melakukan pencurianpun  juga mengendor. Dalam hati berkata : “Saya ingin menyudahi saja dan berhenti dari pekerjaan seperti ini dan ingin hidup layak dan mempunyai pekerjaan yang bisa menghidupi seperti orang lain pada umumnya.

Tetapi kapan waktunya saya harus berhenti dari pekerjaan ini dan bagaimana awal mula cara yang harus aku lakukan. Karena selama ini aku memang tidak mempunyai keakhlian apapun juga sebagai modal untuk hidup bermasyarakat.

Apalagi dengan kejadian tadi sudah dua tempat yang akan kujadikan kurban, secara mendadak kesemua sipemilik rumah terbangun seperti sudah merasa dan curiga yang kemudian berwaspada. Mungkin Tuhan tidak mengabulkan kalau aku melakukan pekerjaan seperti ini lagi, tetapi harus bagaimana aku mulai merubahnya. Semoga Tuhan memberikan jalan dan petunjuknya kepadaku.”

Di tengah keadaan yang gelap gulita seperti itu mata Sumanding yang sudah terbiasa dan terlatih, mampu menelusuri gelapnya malam tanpa bantuan  penerangan apapun seperti layaknya mata seekor burung hantu atau mata seekor kucing yang bisa membedakan keadaan dan memperhatikan sesuatu yang dilihat.

Meskipun dalam keadaan sedang bingung, sedih dan termenung seperti itu, namun penglihatan Sumanding masih sempat menangkap dan melihat ada gerakan yang merunduk-runduk yang dilakukan oleh empat orang yang menyeberangi sungai dan mengarah lurus tepat pada tebing dibawah gerumbulan rumpun bambu tempat persembunyiannya.

Jika diperhatikan perilaku ketika menyeberangi sungai sangat berhati-hati dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang membawa penerangan, baik itu berupa obor, senter atau yang sejenisnya, dan kesan yang bisa dibaca adalah bahwa apa yang dilakukan oleh keempat orang tersebut sangat mencurigakan.

Hati Sumanding menjadi berdebar keras sekali lebih-lebih ketika memperhatikan dari kegelapan bahwa ke empat orang tersebut mengenakan penutup muka dari batas hidung dibawah mata kebawah. Rombongan dari ke empat orang tersebut berhenti sebentar tepat dibawah rumpun bambu beberapa meter dari tempat Sumanding bersembunyi. Ketika diperhatikan ke empat orang tersebut masing-masing mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.

“Pistol !” kata hati Warong  yang terkejut dan juga takut. Walaupun demikian naluri dan pengalamannya mengatakan bahwa ke empat orang tersebut bukanlah orang yang baik-baik. Kalau orang tersebut adalah orang yang berniat baik mestinya pada waktu bepergian malam-malam demikian itu seharusnya membawa peralatan yang bisa dipergunakan untuk menerangi jalan, tetapi kalau niatnya memang tidak baik pastinya tidak akan membawa alat penerangan seperti yang dilakukannya saat ini.

Selain dari pada itu kalau mereka orang baik-baik pastinya tidak perlu harus menutupi mukanya, apalagi mereka masing-masing membawa menyembunyikan sepucuk pistol.

Kalau dia sendiri hanya mencuri bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk makan esok hari akan tetapi apa yang mereka lakukan mungkin juga disertai dengan kekerasan atau bahkan apabila diperlukan bisa juga terjadi hilangnya nyawa seseorang.

Walaupun selama ini dia juga melakukan hal yang salah tetapi ketika memperhatikan hal tersebut hati nuraninya masih bisa berpikir dengan bening, hati kecilnya tidak bisa membiarkan dan tidak bisa menerima kalau hal tersebut sampai betul-betul terjadi. Kemudian diputuskan untuk mengambil sebuah langkah : “Saya harus segera memberi tahukan keadaan ini kepada mereka yang berkewajiban tugas ronda agar berwaspada dan berjaga-jaga, dan mudah-mudahan saja hal ini adalah awal dari sebuah jalan bagi saya untuk bisa memulai hidup baru di jalan yang benar.”

Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, perlahan-lahan Sumanding menggeser posisinya dan keluar dari dalam rumpun bambu, mumpung sebelum orang-orang tersebut menaiki tebing pinggiran sungai.

Ketika dirasakan sudah agak jauh jaraknya dari ke empat orang tersebut, dengan setengah berlari Sumanding menuju pos ronda yang berada di pinggir desa.

“Pak, Mass….. mohon maaf…..,” begitu kata Sumanding sambil mengatur napasnya yang terengah-engah kepada para orang-orang atau petugas ronda yang sedang berjaga di pos keamanan tersebut.

“He…., kamu siapa ! Mengapa sampai lebih dari tengah malam begini kamu datang kemari ? Kamu pasti sedang mengawasi situasi ya ? Karena sejak sore tadi burung bence berbunyi terus-menerus. Jangan-jangan kamu yang sejak sore tadi kamu berkeliling di desa sini, ya apa tidak ? Awas kalau kamu membuat ulah dengan menggunakan berbagai macam alasan, nanti malah akan dipukuli !” kata salah seeorang penjaga pos ronda tersebut.

“Nanti dulu. Sabar dulu sebentar ….saya hanya akan memberi tahu ketika saya sedang duduk menyepi ditengah rumpun bambu yang tumbuh pada tebing dipinggir sungai dalam rangka mencari petunjuk atau wangsit agar bisa hidup menjadi lebih baik, tiba-tiba di bawah tebing sebelah sana saya melihat ada empat orang yang tingkah lakunya mencurigakan menyeberang kemari. Ini saya sampaikan dengan benar-benar. Dan masing-masing orang tersebut menutupi sebagian mukanya serta membekal pistol,” kata Sumanding menceritakan apa yang tadi dilihatnya sambil bergemetaran badannya tetapi bukan karena kedinginan.

“Hush…., jangan kamu mengarang cerita untuk menakut-nakuti kami. Memperhatikan apa yang kamu sampaikan begitu jelas dan terinci seperti ini, jangan-jangan kamu sendiri adalah teman atau bagian dari orang-orang yang mencurigakan tersebut.”

“Tidak pak, saya tidak mengada-ada. Silakan bapak-bapak semuanya bersiaga dan berwaspada, karena menurut perkiraan saya orang-orang yang mencurigakan tersebut akan berbuat yang tidak baik di desa sini,” demikian yang disampaikan Sumanding untuk memberikan pejelasan.

“Ya sudah kalau begitu. Teman tolong dibantu, pukul saja kentongan ini dengan nada gencar daripada nanti terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Kalau orang ini dengan sengaja berbohong, lebih baik kita tangkap lalu kita serahkan kepada polisi,” kata petugas ronda yang lain.

Bunyi kentongan dengan nada titir atau gencar yang berasal dari pos ronda tersebut yang kemudian diikuti oleh bunyi kentongan dengan nada yang sama dari arah lain dan saling bersahut-sahutan dari segala penjuru tempat perondaan di desa tersebut.

Penduduk desa atau warga masyarakat di desa setempat berbondong-bondong keluar dari rumahnya masing-masing sambil membawa peralatan atau senjata yang dimilikinya.

“Ada apa yang sedang terjadi ?” begitu kira-kira pertanyaan dari beberapa warga masyarakat desa itu sambil tampak kebingungan.

“Ada yang memberikan informasi bahwa ada beberapa orang yang kelihatan mencurigakan yang berasal dari seberang sungai sebelah barat desa menuju ke desa sini.”

Hampir semua warga masyakarakat segera pergi secara berbondong-bondong menuju arah sungai yang tadi ditunjukkan oleh Sumanding.

Begitu sampai ditempat yang dituju, yaitu di pinggir sungai, mereka yang datang secara berbondong-bondong berteriak : “Kok, nggak ada apa-apa disini ?”

“Mungkin mereka sudah pergi menyelamatkan diri dan mengurungkan niatnya karena mendengar suara kentongan yang kita pukul dengan nada gencar,” demikian pendapat salah seorang diantara masyarakat tadi.

“Atau kalau tidak,  pastinya orang yang memberikan laporan di pos ronda tadi hanya membohongi kita. Kalau begitu lebih baik orang tersebut kita tangkap kalau perlu dipukuli saja biar mengaku,” teriak yang lain lagi.

Ketika warga masyarakat yang berbondong-bondong pergi ke pinggir sungai tadi sudah kembali ke tempat pos ronda dengan roman muka yang jengkel, hati Sumanding menjadi semakin kecil karena diliputi olah rasa khawatir yang berlebihan.

“Tangkap saja ! Orang ini telah membohongi kita dan hanya membuat keributan saja !” teriak beberapa orang penduduk desa itu yang merangsek maju kedepan untuk menyengkeram leher baju Sumanding pada bagian dadanya.

“Sa….saya tidak bohong….pak… Tadi saya betul-betul melihat dengan mata kepala sendiri !” kata Sumanding memberikan penjelasan dengan badan bergemetaran karena ketakutan.

“Ahhh alasan saja, seandainya kamu memang melihatnya, dapat dipastikan kalau kamu juga bukan orang baik-baik, mungkin sebangsanya pencuri atau barangkali mata-mata dari penjahat yang akan mengganggu ketenteraman desa sini. Bagaimana mungkin tidak, karena kamu bukan penduduk desa sini dan pada saat tengah malam seperti ini masih berkeliaran di desa sini. Iya apa tidak ? Hayo mengaku saja !”

“Mmmm, bukan. Saya, saya adalah orang baik-baik…….hanya ingin menyepi atau bertirakat ditempat itu,” demikian penjelasan Sumanding dengan ketakutan, walaupun di hati kecilnya mengiyakan bahwa dia juga bukan orang baik, tetapi ingin sekali merubah perilaku yang salah, namun pengakuan pada saat seperti ini atau pada saat orang-orang sedang dihinggapi oleh emosi yang tinggi bukanlah waktu yang tepat untuk itu.

“Orang baik-baik….baik apanya ? Malam-malam begini masih berkeliaran di desa orang lain ! Sudah…., tangkap saja dan laporkan ke polisi.”

“Maaf bapak-bapak semuanya…..,” kata Sumanding yang hampir menangis karena ketakutan yang amat sangat dan juga hati yang bersedih karena teringat akan nasib keluarganya.

“Kalau tidak mau menurut, pukul saja !” teriak yang lain.

Ketika malam yang sudah menjelang pagi itu Sumanding diikat pada kedua tangannya dan dibawa ke kantor polisi dengan jalan dibonceng motor. Ada empat orang semuanya yang mengantarkan Sumanding ke kantor polisi. Di sepanjang perjalanan Sumanding hanya bisa menangis. Menangis karena menyesali nasibnya yang tidak bagus. Menangis karena malam ini sampai besok harinya anak dan istrinya tidak akan bisa makan dan tidak akan segera tahu tentang dimana keberadaannya.

Ketika waktu subuh, pada saat orang-orang yang mengantar Sumanding belum kembali dari kantor kepolisian, di desa tersebut telah terjadi keributan yaitu di rumah Kepala Desa yang terkenal kaya dirampok orang. Adapun perampok tersebut berjumlah empat orang dan masing-masing membawa sepucuk pistol.

Kepala Desa yang ikut mengantarkan Sumanding ke Kantor Kepolisian pun tidak mengerti kalau dirumahnya telah terjadi perampokan. Anak dan istrinya hanya bisa menangis sebab semua tangannya diikat oleh para perampok. Semua harta dikuras habis dan benda berharga yang ada diangkut dengan menggunakan mobil pribadi milik Kepala Desa itu sendiri.

Sebagian masyarakat desa itu yang mengetahui kejadian tersebut hanya mendiamkannya saja dan tidak ada yang berani mendekat karena takut menjadi sasaran empuk proyektil peluru yang nyasar, sebab perampok tadi berkali-kali meletuskan pistolnya.

Ketika Kepala Desa kembali dari kantor kepolisian, hanya bisa diam melenggong dan terkesima karena menemukan keadaan bahwa ketenteraman desanya terganggu dan di rumahnya yang sudah dirampok habis-habisan, tanpa ada seorangpun warga setempat yang berani menghalangi terjadinya peristiwa perampokan tersebut.

Ada seberkas rasa penyesalan yang datangnya terlambat karena tidak menghiraukan informasi yang diberikan oleh seseorang, karena dalam pandangan matanya bahwa seseorang tersebut adalah orang yang salah karena penampilan dan pada posisi yang dianggap tidak benar.

Semuanya karena terburu nafsu dengan mudah menjatuhkan vonis, dan merasa bahwa permasalah yang dihadapi sudah terselesaikan serta membiarkan pengamanan perondaan maupun masyarakat desa tersebut menjadi tidak berwaspada lagi.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian yang bisa diketemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui gubahan ceritera tersebut yang intinya adalah bahwa Tuhan memanggil hidup setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya dan suatu niatan yang baik atau suatu Perbuatan baik yang di lakukan tidak akan selalu diterima dengan baik oleh orang lain.

Dan sebagai bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing dalam hidup bermasyarakat, diperlukan suatu kemampuan untuk bisa membaca atau mengerti tentang berbagai nuansa baik itu tanda-tanda dari alam maupun dari manusia.

 

Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan.

Panggilan Tuhan dalam hidup setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang dipanggil ketika ditengah-tengah badai kesulitan, kesukaran dan tantangan hidup dan ada yang dipanggil lewat pengalaman sukacita ataupun kebahagiaan.

Pada dasarnya Tuhan memanggil hidup seseorang agar menjadi lebih dekat pada-Nya bisa dilakukan dengan cara :

  1. Dipanggil Secara Langsung artinya tidak peduli sedang dalam keadaan apapun tiba-tiba saja hati dan pikirannya tertuju kepada Sang Pencipta dan ingin berbuat suatu kebaikan, untuk mendekatkan diri padaNya, atau pada jaman dahulu Tuhan menugaskan malaikat sebagai utusanNya.
  2. Seseorang dipanggil untuk dekat dengan Tuhan bisa melalui cara Pendidikan/Sekolah/Pesantren, Membaca Kitab Suci, Mendengar Lagu Rohani, Mendengar Tausiah, Khotbah atau Ceramah, Membaca Artikel atau media–media lainnya, baru kemudian hatinya tergugah untuk hidup lebih dekat dengan-Nya.
  3. Seseorang dipanggil Tuhan untuk hidup lebih dekat dengan-Nya bisa karena seseorang tersebut selalu melihat dan memperhatikan kehidupan orang-orang beriman yang taat beribadah.

 

Reaksi seseorang ketika mendapat panggilan.

Panggilan juga bisa saja ditanggapi dengan sikap yang berbeda oleh tiap orang. Membaca kisah-kisah dari Kitab Suci, bahwa ada orang yang merasa panggilan sebagai hal yang mendatangkan kesenangan, keuntungan akan cepat menanggapinya. Misalnya tanpa berpikir panjang dia langsung mengikuti kehendak Tuhan dengan meninggalkan segala-galanya, misalnya pangkat, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya.

Tetapi apabila panggilan itu akan membebani, membuat dirinya susah atau untuk melakukan pekerjaan yang berat maka umumnya orang akan berpikir-pikir dulu atau menolak. Misalnya dengan alasan merasa perlu menyelesaikan dan mengurus hidupnya terlebih dahulu. Ada juga yang menolak, kerena merasa tidak mampu memenuhi persyaratan yang diharuskan.

 

Setiap keputusan yang di ambil ketika mendekatkan kepada-Nya pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh orang tersebut, akan tetapi kalau tetap setia dan bertahan, Tuhan pasti memberikan kekuatan jalan keluar dan damai sejahtera sehingga orang tersebut dapat menanggung semua itu.

Tuhan memanggil seseorang karena Dia mempunyai rencana yang besar, karena lewat hidup orang tersebut Tuhan ingin menjadikannya sebagai saksi, contoh, teladan hidup, sehingga  keluarga, teman, saudara maupun orang lain sekalipun bisa menjadi lebih dekat dengan Nya.

Tantangan dalam kehidupan bisa saja datang silih berganti menghampiri akan tetapi rencana Tuhan bagi umat-Nya tidak akan pernah gagal karena Tuhan senantiasa memberikan hikmah, kekuatan dan selalu menyertai umat-Nya.

Jadi intinya bagaimanapun cara Tuhan memanggil, sebaiknya hal tersebut dilihat dengan sudut pandang positif, bahwa Dia sedang melakukan yang terbaik bagi umat-Nya.

 

-o0o-

Sebagai bahan introspeksi :

WAJAH DIBALIK PENUTUP

“Seseorang yang selalu memusuhi saya, dan wajahnya sangat ingin saya ketahui.

Sebab dia secara terus menerus selalu mengikuti saya tanpa terlihat, walau kemana pun saya pergi.

Rencana saya selalu dibatalkannya, bidikkan saya pun selalu digagalkannya, dia juga menghambat jalan saya untuk maju ke depan.

Ketika saya berjuang untuk mengejar tujuan yang luhur, dia berkata dengan geram kepada saya : “Tidak !”

Pada suatu kesempatan, saya berhasil menangkapnya serta memegangnya dengan erat, kemudian saya tarik lepas penutup wajah itu……..

Akhirnya, saya dapat melihat wajahnya itu dan ……… ternyata diri sayalah yang saya lihat!”

 

 

Jangan menilai orang hanya dari penampilan luarnya :

Banyak orang dan mungkin salah satunya adalah kita sendiri yang sering  menyampaikan pepatah agar “tidak menilai orang dari luarnya atau penampilannya saja.”

Karena “menilai orang dari luar” mempunyai makna atau konotasi yang buruk, bahkan mungkin merendahkan. Sebab di dalamnya tersirat penilian yang tidak adil, penilaian yang sepihak dan terlalu cepat menarik kesimpulan.

Dalam situasi carut marut dunia saat ini begitu sulit orang mengenal jati dirinya dan orang lain yang sesungguhnya, kadang-kadang polesan asesoris menutupi kesejatian identitas diri yang sebenarnya, maka tidak heran kalau kitapun memiliki mentalitas yang ingin melihat segala sesuatu dengan dangkal karena tidak mau mengenal yang lebih dalam, orang hanya sekedar melihat yang lahiriah yang nampak saja.

Padahal sejak dulu sudah diketahui, bahwa menilai hanya dari penampilan, sebenarnya adalah merampas kesempatan untuk mengenal pribadi seseorang yang sebenarnya. Mungkin sebagai manusia kita lupa, bahwa setiap manusia punya sisi berbeda.

Meskipun Tuhan memberikan kita kedua belah mata yang sehat dan berfungsi sebagaimana mastinya, tapi mata tetaplah mata yang hanya bisa melihat sisi permukaan atau lahiriah saja. Jangan hanya dengan menggantungkan kemampuan indera penglihatan, kita bisa dengan gampangnya memberi tanggapan atau penilaian pada orang lain.

Karena indra penglihatan yang kita memiliki mempunyai keterbatasannya sendiri. Isi hati dan kepribadian seseorang adalah sisi yang tidak bisa di telusuri dengan mata lahiriah.

Harus diakui sulit memang kita melepaskan sepenuhnya kebiasaan melihat dari orang lain dan penampilan. Selalu ada masa di mana kita menumpukan pendapat dari suatu yang bisa terlihat. Akan tetapi, ada baiknya sebelum kita memberi penilaian, luangkan waktu terlebih dahulu mengenali orang dan bukan lainnya. Mulailah melatih diri untuk mau menyelami sisi terdalam dari seseorang.

Ketika kita membiasakan diri untuk tidak terpaku menilai orang lain dari sisi luarnya saja, sesungguhnya akan ada banyak keuntungan yang kita dapatkan. Keuntungan tersebut adalah kesempatan untuk mengenal orang secara lebih dalam. Mungkin akan menemukan kejutan ketika mengenal orang lain secara lebih mendalam, sebab seseorang yang pada awalnya kita nilai biasa-biasa saja, bisa jadi justru memiliki sisi yang begitu istimewa. Selalu ada sisi baik dari setiap insan meski penampilan luarnya tidaklah menyenangkan.

Mengubah cara pandang jelas bukan sesuatu yang gampang. Tapi, bukan berarti tidak bisa kita lakukan, dengan kemauan yang kuat, secara perlahan-lahan kita dapat merubah arah pemikiran. Dari yang tadinya sibuk menilai orang dari kemasan luar menjadi lebih detail dengan sisi terdalam.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas jangan menilai dari tampilan lahiriahnya saja karena :

  1. Tidak ada seorangpun manusia yang sempurna, oleh karena itu belum tentu kita lebih baik dari mereka.

Maka sebelum menilai orang lain, bercerminlah pada diri sendiri. Karena semua orang memiliki kekurangan yang bahkan mungkin kekurangan kita lebih buruk daripada kekurangan mereka.

  1. Setiap orang diciptakan Tuhan karena sebuah alasan. Begitu pula dengan dia. Maka meremehkan mereka sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta.

Tidak ada manusia yang diciptakan-Nya dengan sederhana dan tidak ada ciptaan di dunia ini yang tidak berguna. Sebagai contoh nyamuk yang kecil diciptakan bukan untuk menggigit manusia tapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian juga dengan mereka yang diciptakan Tuhan untuk satu alasan. Maka, sebelum kamu menilai orang lain buruk, perhatikan dia baik-naik, dan ingat tentang yang Menciptakannya.

  1. Kita semua diciptakan berbeda.

Manusia diciptakan berbeda-beda. Dari bentuk fisik saja sudah banyak perbedaan, apalagi dari segi nonfisik. Jika manusia punya isi hati dan isi kepala yang sama, maka kita bukan lagi disebut manusia, tetapi robot. Oleh karena itu harus saling menghargai dan menikmati perbedaan tersebut.

  1. Setiap orang memiliki sisik baik dan memiliki sisi yang buruk. Jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang 100 % jahat dan 100 % baik.
  2. Menilai orang lain dengan penilaian yang buruk tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Karena yang dikatakan baik itu baik itu relative dan begitu luas. Dan tolok ukur kebaikan itu sendiri sangat banyak. Jika kita sudah menilai buruk seseorang, maka kita tidak akan bisa melihat sisi kebaikannya.
  3. Jika kita tidak suka bukan berarti mereka salah.

Jangan sampai kita mempunyai sikap tidak suka pada seorang laki-laki yang menyenangi warna pink hanya karena kita senang dengan warna hijau ? Menyenangi warna hijau boleh boleh saja, tetapi jangan sampai kita merasa benar sendiri atas sikap tersebut. Karena warna hijau  belum tentu lebih bagus daripada warna pink, tetapi keduanya sama-sama dibutuhkan agar pelangi dapat tercipta. Jadi intinya tidak harus memaksa orang lain mempunyai penilaian yang sama dengan penilaian kita.

  1. Penampilan bisa saja menipu.

Penampilan luar sangat mungkin tidak mencerminkan apa yang ada di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita tahu apa yang terjadi, namun bisa saja kita tidak tahu apa-apa sama sekali.

Kita sering tertipu oleh penampilan luar seseorang. Kita percaya dan beranggapan bahwa seseorang itu baik karena penampilannya yang memikat, atau sebaliknya seseorang tersebut benar-benar baik walaupun penampilan luarnya tidaklah menyenangkan.

Siapa bisa mengetahui isi hati orang ?

Hikmah saja bersembunyi dibalik musibah, apalagi penampilan seseorang. Jelas sekali bisa ditutupi. Penampilan bisa mengelabuhi, tapi buahnya tidak pernah bisa bohong.

 

Ada ungkapan yang berbunyi : “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”

 

Untuk diingat :

Hal yang penting dan harus diketahui bahwa Tuhan tidak menilai penampilan lahiriah kita. Dia melihat ke dalam hati yang memancarkan kondisi sebenarnya. Demikian juga dengan pekerjaan Allah tidak cukup hanya dilihat dan dirasakan secara lahiriah atau yang nampak saja.

-o0o-

Sebuah Humor :

 

“MUKIDIN MENCURI MOTOR MIO MERAH MILIK MIMIN MINTARSIH”

Mukidin diajukan ke Pengadilan karena terbukti membawa lari Sepeda Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih selingkuhnya.

Inilah kutipan Pembelaan Mukidin di Pengadilan :

“Saya tidak Mencuri Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih Pak Hakim… Tetapi Gadis itu sendiri yang sudah memberikannya dengan ikhlas kepada saya….,” kata Mukidin dengan suara memelas.

Kemudian Mukidin melanjutkan bicaranya sambil sesekali mengusap air-matanya : “Kami berkenalan, menjadi akrab lalu berjalan-jalan pakai Sepeda Motor Mio Miliknya ke taman yang sepi….kemudian setelah kami parkir, gadis itu berbisik ditelinga saya : “Masss….ambillah milik-ku yang paling berharga sambil dia membuka semua pakaiannya….terus pergi masuk semak-semak,” tambah Mukidin bersemangat.

“Lalu saya kipir-pikir, dari pada ambil Baju, BH, CD dan Celana Jeans….mendingan Sepeda Motor Mionya….lebih berharga kan Pak Hakim..??!!”

Hakim spontan Tertawa terbahak-bahak sambil berkata : “Dasar Siah… Belegug Mukidin….. (Dasar kamu … Bodoh Mukidin….) ….!!!”  Lalu Hakim pun melempar Palunya ke Mukidin : “KAMU BEBAS…..!!!”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, SEPTEMBER – 2017

Cerita : Sartono Kusumaningrat

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

SEBILAH KERIS PUSAKA

APAKAH DALAM MENJALANI HIDUP DARI HARI KE HARI PENUH DENGAN RASA SYUKUR ATAU SELALU MENGERUTU ?

KETIKA MENDAPAT BEBAN DALAM KEHIDUPAN, APAKAH DAPAT MENANGGUNGNYA DENGAN RELA TANPA MENGELUH ?

KETIKA MENGHADAPI JALAN BUNTU, APAKAH MENYERAH ATAU MENGHADAPINYA DENGAN TEGAR ?

SEBUAH KESALAHAN APABILA MENGEJAR SESUATU YANG NGGAK DIMILIKI, NAMUN MENGABAIKAN DAN MELUPAKAN KEBAHAGIAAN YANG SUDAH DIPUNYAI. SEHARUSNYA MERASA PUAS DAN BESYUKUR DENGAN APA YANG SUDAH DIMILIKI, WALAUPUN ITU HANYA HAL KECIL.

 APA YANG KELIHATAN BAIK UNTUK HARI INI BELUM TENTU BAIK UNTUK HARI ESOK.

DEMIKIAN PULA, APA YANG KURANG BAIK UNTUK HARI INI BELUM TENTU KURANG BAIK JUGA UNTUK HARI ESOK.

YANG PASTI…… TUHAN PALING TAHU YANG TERBAIK UNTUK UMATNYA.

enazah Tante Suhartini sudah dimakamkan di tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, seperti yang telah pesannya dahulu ketika Tante Suhartini masih hidup yaitu menginginkan jika suatu saat sudah dipanggil menghadap kehadiratNya beliau ingin dimakamkan di samping makam Neneknya Maheswari.  Dan tidak mau dimakamkan disamping makam Oom Wijayanto suaminya walaupun sudah 2 tahun lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

Pada umumnya yang terjadi di lingkungan masyarakat apabila yang namanya suami-istri jika sudah harus menghadap hadiratNya biasanya dimakamkan berdampingan. Tetapi hal yang terjadi agak berbeda karena keinginan Tante Suhartini yang dinilai agak aneh.

“Tidak, mau ah. Kalau aku nanti sudah dipanggil menghadap oleh Yang Maha Kuasa aku pesan, jangan dimakamkan disamping makam Oom mu Wijayanto,” begitu pesan Tante Suhartini ketika masih hidup dan dalam keadaan sakit dan waktu itu sedang disuapi oleh Larashati.

“Mengapa demikian Tante ?” tanya Larashati, keponakan yang paling disayangi Tante Suhartini dan sering tidur menemani Tantenya yang  kesepian daripada tidur dirumahnya sendiri. Kalau siang hari ada Mbak Sulasmini, yaitu seorang tetangga yang mendapat tugas untuk melayani, karena Mas Wicaksana yang juga anak Tante Suhartini tinggal di rumahnya sendiri.

“Iya, sebab Oom kamu itu tidak mencintai Tante,” jawab Tante Suhartini. Larashati hanya tertawa perlahan yang ditahan karena dalam pikirnya tantenya sudah tua begini tapi masih mudah sekali sewot. Padahal Oom Wijayanto suaminya sudah lama meninggal, tetapi Tante Suhartini masih saja menyimpan rasa sakit hati kepada Oom Wijayanto.

“Kamu jangan mentertawakan Laras, ini beneran. Hanya karena Tante tidak bisa memberikan keturunan, maka Oom Wijayantomu itu sama sekali tidak mencintaiku,” kata Tante sambil bersungut-sungut.

Memang sebenarnya Tante Suhartini sendiri tidak memiliki anak. Oleh karena itu Tante Suhartini mengangkat anak dari keponakan, biar adil ya diambil dari kedua belah pihak keluarga. Jadi Wicaksana itu juga anak angkat, keponakan seperti halnya Larashati sendiri. Kalau Larashati adalah anak dari adiknya yang bernama Suhartati sedangkan kalau Wicakcana dari pihak Oom Wijayanto, yaitu anak adiknya yang bernama Wijanarko. Jadi merka memiliki anak sepasang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.

“Oom Yanto kan sudah lama meninggal dunia, Tante, kok masih mempermasalahkan hal yang demikian itu,” kata Larashati sambil mengelap mulut Tante Suhartini dengan menggunakan tisu basah,  karena kurang lebih sudah setengah tahun tantenya sakit-sakitan, sebab umurnya kini lebih dari 70 tahun.

Pagi itu Larashati sudah bersiap hendak berangkat mengajar. Sebab menjadi Guru dengan status Tidak Tetap dituntut disiplin yang tinggi, apalagi mengajar di sekolah suasta, kalau tidak rajin bisa-bisa posisinya nanti digantikan oleh GTT  (Guru Tidak Tetap) yang lain.

“Laras….,” suara Suhartati, ibunya dari luar rumah terdengar keras.

“Ya, ada apa Bu….,” jawab Larashati.

“Itu Tante Tini sedang memangil-manggil kamu….”

“Tapi kan sudah ditunggu oleh Mbak Sulasmini, Bu. Sekarang saya akan berangkat mengajar Bu…,” jawab Larashati sembari keluar kamar sambil menjinjng tas, dan matanya melirik kearah jam tangannya, sudah pukul setengah tujuh pagi.

“Ya ditengok dulu sebentarlah, sambil berpamitan,” kata ibunya.

Larashati cepat-cepat pergi ke rumah Tantenya yang berada didepan rumah hanya berseberangan jalan gang.

“Ya Tante Tini. Saya akan berangkat mengajar,” kata Larashati sambil menyodorkan tangan untuk salim.

“Nanti dulu, tunggu sebentar Larashati. Aku hendak menitipkan ini,” kata Tante Suhartini sambil memegang bungkusan kain putih, dan ketika bungkusan itu dibuka isinya adalah sebilah keris yang lengkap dengan serangka atau  sarungnya.

Ketika Larashati melihat kearah benda tersebut tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Larashati tahu kalau barang simpanan milik almarhum Oom Wijayanto nya itu banyak sekali, tetapi dia tidak pernah tahu bagaimana saja bentuknya. Dan sekarang ini baru tahu salah satu wujudnya.

“Ini maksudnya bagaimana, Tante ?” tanya Larashati karena memang tidak mengerti apa maksudnya.

“Larashati, aku titip pusaka ini tolong dipelihara. Karena setelah saya amati dan perhatikan hanya kamu yang bisa dan mampu untuk merawatnya. Tolong disimpan ya. Keris ini adalah Pusaka peninggalan Nenek buyut Maheswari yang dahulu diberikan kepada Tante. Dan Keris ini bukan barang peninggalan Oom kamu. Pesanku, pada setiap malam Jumat legi keris ini agar kamu beri tiga macam bunga yaitu bunga cempaka, bunga kenanga dan bunga mawar masing-masing dua kuntum dan simpan saja dalam kain putih bungkusnya.”

Ketika itu yang menjadi perhatian Larashati hanya ingin segera berangkat mengajar, karena khawatir kalau terlambat keadaannya bisa menjadi lebih runyam nantinya. Maka pada pikirnya, “Gampang, nanti setelah pulang mengajar akan saya tanyakan lagi agar lebih jelas.” Karena dia memang tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana cara memelihara barang pusaka, dan karena memang dia juga kurang menyenangi terhadap hal-hal yang demikian itu.

Tetapi untuk menyenangkan hati Tante Suhartini ibu angkatnya, maka benda tersebut diterima begitu saja dan kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja.

Kira-kira pukul 12 tengah hari, tiba-tiba ada telepon dari rumah yang isinya memberitahukan bahwa Tante Suhartini telah meninggal dunia.

Terkejut hati Larashati mendengar berita itu kemudian segera langsung pulang, dan apa yang menjadi pesan serta keinginan Tante Suhartini ketika masih hidup untuk dimakamkan di Sirnaraga disampaikan kepada anak angkat Tante nya yang datang bersama anak dan istrinya. Oleh karena itu, kemudian Tante Suhartini dimakamkan disamping Nenek Maheswari seperti yang menjadi keinginannya.

Tiba-tiba Larashati teringat dengan keris yang dititipkan Tante Suhartini kepadanya. Kemudian siang itu dengan hati-hati keris tersebut dibuka dan dikeluarkan dari sarungnya. Tiba-tiba hatinya berdesir ketika melihat benda tersebut, tetapi ini adalah sebuah amanat, dan Larashati harus merawat benda itu dengan baik.

Harus disimpan ditempat yang baik, walaupun dia sendiri tidak mengerti apa manfaat untuk kehidupannya. Kemudian Keris tersebut dimasukkan lagi kedalam sarungnya dan dibungkus kembali dengan kain putihnya lalu dimasukkan kedalam lemari dan diletakkan dibawah tumpukan baju.

Baru saja menutup pintu lemari, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.

“Dik…dik Laras…,” terdengar suara Wicaksana anak angkat Tante Suhartini.

“Oh iya, Mas,” jawab Larashati sambil membuka pintu kamar.

“Aku mau bicara…..,” kata Wicaksana duduk di kursi dekat pintu. Kemudian Larashati menemani duduk di depannya dengan hati dipenuhi tanda tanya karena merasa heran, tumben Wicaksana mencari dirinya.

“Apa ada yang harus saya kerjakan, Mas Wicak ?” tanya Larashati sambil memandang dengan tajam. Karena selama ini Wicaksana tidak begitu mengurus Tante Suhartini ibu angkatnya, malah lebih memilih membayar Mbak Sulasmini untuk merawat ibunya. Tetapi semua keluarga menyadari kalau Wicaksana dan istrinya yang sama-sama pejabat adalah orang sibuk, jadi alasan repot dan sudah lelah karena pekerjaan bisa diterima oleh semuanya. Jadi yang katempuhan adalah Larashati yang harus sibuk merawat Tantenya yang juga ibu angkatnya pada malam harinya.

“Laras, jangan menjadi nggak enak dihati ya, aku ingin tahu, apakah ibu menitipkan sesuatu kepadamu ?” tanya Wicaksana yang mengejutkan hati Larashati.

“Ah. Ini pasti laporan dari Mbak Sulasmini, orang yang menjadi kepercayaan Mas Wicaksana,” pikirnya dalam hati.

“Nggak menitipkan apa-apa, kok Mas,” jawab Larashati.

“Ah yang bener ? Kata Mbak Sulasmini, ibu menitipkan sebilah keris kepadamu ?” tanya Wicaksana sambil memandang tajam dengan mata  melotot. Larashati terkejut, karena mengingat akan amanat Tantenya.

“Masyaallah….betul, Mas. Mohon maaf saya lupa sebab tidak kepikiran tentang hal itu,” jawab Larasahati serta bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya.

Larashati kemudian teringat akan amanat tentang benda tersebut, hatinya menjadi khawatir, karena itu adalah amanat dari Tante Suhartini hanya untuk dirinya. Lalu bagaimana caranya untuk bisa  mempertahankannya kalau benda tersebut diminta oleh Wicaksana ? Oleh karena itu terjadi perang batin didalam hatinya yang menyebabkan Larashati menjadi ragu-ragu ketika hendak keluar dari kamarnya.

“Keris, bagaimana ini ?” katanya dalam hati. “Mas Wicaksana memang mempunyai hak untuk semua barang-barang yang merupakan peninggalan Tante, sebab dia juga adalah anaknya Tante,” celoteh hatinya tentang hal yang tidak bisa dipungkiri.

“Dik…., dik Laras,” tiba-tiba terdengar suara Wicaksana yang agak keras mengejutkan lamunan Larashati.

“Ya, Mas , sebentar…….,” kemudian Larashati keluar kamar dengan membawa keris yang terbungkus kain putih dan lalu diletakkan diatas meja.

“Ini Mas kerisnya, Tante Tini berpesan kepada saya agar saya mau merawatnya, dan pada malam Jumat Legi agar diberikan bunga tiga macam yaitu bunga cempaka, bunga kenanga dan bunga mawar masing-masing dua kuntum yang disimpan dalam bungkusan kain putih. Apakah tidak sebaiknya kalau benda ini disimpan terlebih dahulu disini sambil menunggu nanti sesudah 40 hari meninggalnya Tante Tini baru dibicarakan kembali,” Larashati berupaya agar keris tersebut disimpan dirumahnya dulu.

“Tidak, dik. Sekarang juga akan saya bawa, karena ini merupakan peninggalan ibu, “ jawab Wicaksana sambil mengambil keris tersebut dan berpamitan pulang.

Sepeninggal Wicaksana, Larashati hanya bisa menangis. “Maafkan Laras Tante, Laras tidak bisa mempertahankan amanah…..,” kata Larashati dalam hatinya sambil menangis sesenggukan.

“Sudahlah Laras, Wicaksana adalah anak tertua dan anak laki-laki yang lebih mempunyai hak peninggalan orang tuanya,” kata Ibunya menghibur sambil mendekap kepala Larashati.

Sudah menjadi kebiasaan yang berlaku di masyarakat pada umumnya jika ada rumah yang mengalami dukacita atau ada yang meninggal dunia, biasanya rumah tersebut dipasang lampu supaya terlihat lebih terang kemudian ditempat itu diakan tahlilan atau pengajian, tetapi disini Wicaksana mengikuti kemauannya sendiri.

Keadaan di rumah Tante Suhartini tertutup rapat dan lampu yang dinyalakan hanya lampu yang berada diluar atau diteras saja. Dan semua keluarga tidak yang bisa merobah kemauan tersebut. Kemudian soal pengajian akan dilaksanakan dirumah Wicaksana sendiri. Ya mau dibagaimanakan lagi, karena semua itu memang haknya Wicaksana.

Oleh karena itu Ibu Suhartati mengadakan pengajian sendiri seperti pada umumnya yang dilakukan oleh tetangga kanan dan kiri kalau sedang ada yang meninggal dunia.

Pada malam harinya Larashati sangat gelisah dan tidak bisa segera tidur walaupun pada siang harinya sudah lelah. Ada rasa bersalah yang dirasakan terhadap Tante Tini sebab tidak bisa memenuhi permintaan atau amanatnya untuk merawat kerisnya.

Esoknya, pagi-pagi buta Oom Suharsono, adik ibunya tergopoh-gopoh dan terburu-buru mencari kunci motornya.

“Ada apa Oom Har ?” tanya Larashati.

“Mau ke rumah Wicaksana…..anaknya Wicaksana, keponakanmu seperti anak yang sedang kesurupan…,” jawab Oom Suharsono sambil mengeluarkan sepeda motornya.
“Siapa, Oom ?” tanya Larashati

“Faizal,” sahut Oom Suharsono sambil pergi.

Larashati hanya diam melongo, dalam hatinya berkata : “ Andirizal itu anak bungsu dari Mas Wicaksana, dan kurang lebih baru berumur antara 6 tahunan. Kenapa bisa kesurupan ? Apakah karena Keris itu ?”

Kemudian Larashati cepat-cepat mandi dan segera menyusul ke rumah Wicaksana.

Di rumah Wicaksana nampak penuh berkerumun dengan orang-orang dan Larashati langsung saja masuk ke dalam. Di halaman rumah terlihat Andirizal berguling-guling sambil menangis dan matanya terpejam dengan rapat.

“Ical….!” Larashati memanggil anak kecil tersebut yang tidak mau dipegang oleh siapapun juga.

“Ical, ayo dengan Tante Laras ya…,” suara Larashati halus dan lembut.

Tiba-tiba saja Andirizal berhenti dari menangisnya dan matanya yang tadinya terpejam rapat kini terbuka serta memandang kearah Larashati, lalu berdiri kemudian langsung berlari dan merangkul Larashati.

“Pulang……pulang..….pulang……,” teriak anak kecil itu sambil memejamkan matanya kembali.

“Mas Wicak. Saya minta keris itu untuk dipulangkan kembali, jangan disimpan di rumah sini,” kata Larashati sambil memandang Kakaknya.

“Keris ? Keris apa itu Laras ?” tanya Oom Suharsono sambil memandang  kearah Larashati dan Wicaksana bergantian. Kemudian Larashati menceritakan tentang Keris yang telah diberikan Tante Suhartini itu kepadanya untuk dirawat.

“Wicaksana, apa yang dikatakan Larashati adalah benar. Keris itu harus disimpan kembali oleh Larashati dirumahnya sesuai dengan amanat ibunya, namun sejak terjadinya peristiwa ini akan saya bawa dulu untuk disimpan di rumah asalnya sambil menunggu selesai 40 hari meninggalnya Tante Tini,” begitu penjelasan Oom Suharsono.

Kemudian Suharsono pergi membawa pulang keris tersebut kerumah kakaknya dan menyimpannya kembali didalam lemari dibawah tumpukan pakaian Tante Suhartini.

Pada suatu hari Oom Suharsono mengantarkan Larashati untuk mengambil Keris itu kembali yang selanjutnya agar dirawat. Namun ketika Larashati membuka lemari, tiba-tiba saja kakinya menggigil dan lemas, karena menurut penglihatannya di lemari tersebut terdapat seekor ular dengan dua kepala sebesar lengan lelaki dewasa yang bersisik ke-emas-an sedang melingkar serta menegakkan kepala dan menjulurkan lidahnya seperti seekor naga kecil serta matanya yang merah menyala itu  memandang tajam kearahnya.

Seketika itu juga pandangan mata Larashati menjadi gelap gulita dan untuk selanjutnya tidak ingat apa-apa lagi.

“Laras, Larashati …sadar sayang….,” suara ibunya perlahan. Larashati dengan perlahan-lahan membuka matanya dan ketika memandang berkeliling terlihat olehnya ada ibu Suhartati, Oom Suharsono, Ayah Priambada, hadir pula dari Perkumpulan Bayu Sepi yaitu Mbah Mulyadi dan Teteh Erna Pinastiti yang duduk disampingnya sambil memegang tangannya serta berkata :

“Alhamdulillah….sekarang sudah sadar. Apa yang telah terjadi, dik  Laras ?”

Menurut perasaan Larashati, Keris pemberian Tantenya itu ternyata wujud aslinya adalah seekor ular berkepala dua yang bersisik kuning ke-emas-an sebesar lengan lelaki dewasa yang kekar, pantas saja Tentenya berpesan bunga yang diberikan masing-masing harus dua kuntum. Tetapi hal ini tidak akan diceritakan kepada siapapun, karena khawatir andaikata diceritakan akan membuat orang lain menjadi takut dan tidak bisa membayangklan bagaimana nasib keris tersebut nantinya. Pastinya tidak boleh disimpan lagi dan harus diberikan atau diserahkan kepada orang lain. Dan kalau hal itu terjadi berarti dia tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan dan melestarikan benda hasil budaya yang berwujud sebilah keris dan yang lebih parahnya jika dianggap musrik.

Sebenarnya maksudnya hanya sekedar melaksanakan amanah Tante Tini untuk merawat Keris pusaka peninggalan leluhurnya. Andaikata cerita tentang keris tersebut masih mempunyai tuah dan diketahui oleh banyak orang, Larashati merasa khawatir jangan-jangan keris tersebut malahan menjadi bahan perebutan.

“Ini keris peninggalan Mbah Buyut Maheswari, Teh Erna,” jawab Larashati perlahan.

“Nggak apa-apa, boleh saja keris itu disimpan, tetapi yang harus ingat bahwa jangan sampai hal tersebut malah menjadikan musrik. Karena semua kekuatan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menurut ceritanya pada jaman dahulu orang pembuat pusaka yang berbentuk keris disebut dengan nama empu. Pada saat akan membuat keris sakti dia harus melaksanakan sesuatu yang dinamakan tirakat, yaitu berpuasa dan berdoa,” demikian kata Teh Erna memberikan penjelasannya sambil tersenyum, seakan mengatakan bahwa ia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan sepertinya semua orang yang berada disitupun ikut mendengarkan.

“Iya, teh,” jawab Larashati perlahan.

Namun dalam hati Larashati berjanji hanya akan merawat Keris tersebut untuk melestarikan hasil karya budaya yang tinggi nilainya tetapi menjaga jangan sampai terjerumus menjadi musrik, seperti yang telah dipesankan oleh Teh Erna.

Benda tersebut akan dirawat yang akan disamakan saja seperti hal nya memelihara seekor ayam kate serama yang menjadi kesayangan, atau merawat seekor kucing anggora yang menggemaskan.

Larashati kembali memejamkan matanya.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, cerita diatas adalah sebuah reka cerita yang ditulis secara singkat atau pada garis besarnya saja. Hanya semata-mata sebagai bacaan yang mungkin saja bahwa cerita tersebut ada manfaatnya untuk bahan introspeksi diri, yang bisa diambil hal yang positifnya serta ditinggalkan hal yang kurang baiknya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Melalui reka ceritera diatas intinya adalah untuk memberikan sebuah gambaran bahwa pada diri setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan, baik sudah tua maupun masih muda pada dasarnya pernah melakukan kesalahan. Dan mungkin saja kesalahan tersebut dilakukan karena tidak dimengerti ataupun tidak disadari.

Oleh karena itu cerita tersebut mengingatkan agar para pembaca jangan sampai terjebak dengan melakukan kesalahan yang sama sekali tidak dimengerti atau tidak disadari. 

Sebagai bahan perenungan mari kita lihat perilaku Wicaksana yang serakah karena menginginkan dan mengambil barang titipan hak orang lain dalam kaitannya dengan amanat bagi Larashati untuk merawat Keris Pusaka serta jangan sampai jatuh ke dalam perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai musyrik.

 

PENGERTIAN MENGINGINI MILIK ORANG LAIN.

*) Seperti yang digambarkan pada cerita diatas dengan berpikiran positif bahwa apa yang disampaikan oleh Pembantu yang bernama Mbak Sulasmini sebagai orang yang dipercaya untuk memberikan laporan apa yang terjadi, pastinya sudah disampaikan semua informasi yang diketahui tersebut ke Wicaksana secara lengkap, termasuk barang yang dititipkan secara pribadi dan menjadi hak serta tanggung jawab Larashati untuk merawatnya dengan pertimbangan tertentu dari Tante Suhartini dalam keadaan yang mepet.

Namun Wicaksana tetap akan mengambil barang tersebut, karena merasa menjadi anak yang tertua maka semua peninggalan ibunya dalam penguasaannya. Disini perilaku Wicaksana dengan mengambil keris titipan tersebut dapat dikatakan sebagai menginginkan milik orang lain.

Ketika ada perilaku yang menginginkan milik orang lain, mungkin saja hal tersebut didasari oleh timbulnya rasa iri hati. Kalau rasa iri hati itu timbul, maka cercaan maupun hujatan, atau bahkan mungkin kutukan bisa saja terucapkan.

Harta, rumah, status, pekerjaan, gaji yang tinggi, maupun keluarga, banyak orang yang menganggap hal-hal tersebut sebagai ukuran kesuksesan atau jaminan masa depan. Dinegeri yang kaya atau yang miskin, tampak dengan jelas bahwa banyak orang hanya berminat untuk mengejar keuntungan dan kesuksesan materi.

Dalam keadaan seperti itu biasanya hal-hal yang menyangkut kehidupan rohani tidak akan nampak, mungkin saja dapat dikatakan sedang merosot.

Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang menginginkan yang bukan miliknya, bisa saja misalnya dilakukan dalam bentuk korupsi, mencuri atau bahkan kalau mungkin membunuh ketika mereka tidak lagi bisa mengendalikan keinginan dirinya untuk menguasai milik orang lain.

Andaikata pernah menonton Film tentang Kisah Nabi Musa baik melalui Televisi maupun di Film Layar Lebar dengan judul “The Ten Commandments” atau “10 Perintah Allah” yaitu Firman Allah yang ditulis dalam dua Loh Batu, dan dalam salah satu Loh nya tertulis Firman Allah yang ke 10 yang berbunyi demikian : “Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Maka hal tersebut sudah jelas bahwa sejak awal Allah sudah memberikan peringatan agar jangan berperilaku menginginkan milik orang lain, apapun bentuknya yang bukan menjadi haknya.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas jika mengingini milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah merupakan sebuah dosa, walaupun nampaknya “samar” karena tidak begitu kelihatan. Berbeda sekali dengan sebuah dosa seperti hal nya membunuh yang nampak dengan jelas. Namun harus selalu tetap waspada, karena hal tersebut bisa menjadi awal dari sebuah kejatuhan. Sebab jika tidak bisa mengendalikan diri dengan hati-hati, maka orang akan bisa terjerumus dalam berbagai kesalahan atau dosa.

Perilaku menginginkan milik orang lain tidak berbeda jauh dengan serakah.

-o0o-

 

PENGERTIAN SERAKAH

*) Seperti yang telah diceritakan diatas, walaupun semua peninggalan berada dalam pengawasannya sebagai saudara tertua, namun soal barang yang dititipkan secara pribadi dengan pertimbangan tertentu kepada Larashati adiknya, masih juga ingin dikuasai. Dengan demikian perilaku Wicaksana yang ingin menguasai semuanya dapat dikatakan sebagai perilaku orang yang serakah, loba atau tamak.

Serakah

*) Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Karena ketidak puasannya itu, segala cara pun bisa ditempuh. Dan serakah itu sendiri adalah merupakan salah satu dari penyakit hati.

Orang yang dihinggapi penyakit hati seperti ini akan selalu menginginkan yang lebih banyak, dengan tidak mempedulikan apakah cara yang ditempuh itu benarkan atau salah. Mungkin juga dia tidak berpikir apakah yang dilakukan itu mengorbankan kepentingan, kehormatan, harga diri orang lain atau tidak. Singkatnya melakukan dengan segala macam cara yang terpenting adalah, apa yang menjadi keinginannya terpenuhi.

*). Hal tersebut bisa saja terjadi yang disebabkan antara lain karena :

– Kurang atau tidak mensyukuri apa yang telah dimiliki.

– Selalu merasa kurang dengan apa yang sudah diperolah. Tanpa mau menyadari bahwa dia telah banyak mendapat nikmat

– Ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain.

–  Kurang menghargai pemberian orang lain jika hal itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.

– Perbuatan seperti itu bisa saja karena bertendensi pada materi, pujian ataupun penghargaan.

Yang harus diketahui adalah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini seakan-akan hanyalah merupakan sebuah panggung sandiwara, sebuah permainan, untuk bermegah-megah karena banyaknya harta, karena banyaknya penghormatan yang diterima dan sebagainya sehingga dapat membuat lalai.

Hal tersebut bisa membuat lupa bahwa kehidupan itu tidak lama dan dapat diibaratkan bagaikan orang yang singgah untuk minum karena kehausan dan pada waktunya, apa pun yang telah dimiliki itu harus ditinggalkan.

Oleh karena itu sehubungan dengan hal tersebut diatas, orang harus bisa menyadari dan mampu mengendalikan kesadaran diri agar jangan terjebak situasi seperti diatas.

Hal yang paling sederhana untuk dilakukan adalah mensyukuri apa pun yang telah diterima, walau dalam bentuk yang sekecil apapun sebagai modal untuk memuliakan-Nya.

Jangan lupa menjaga kesehatan, karena kesehatan merupakan harta yang paling berharga. Karena dengan kesehatan orang akan mampu untuk mengisi kehidupan nya dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga maupun untuk orang lain.

Karena Harta adalah BERKAH yang dipercayakan sedangkan Hidup adalah WAKTU yang dipinjamkan………

Dan untuk semua itu, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

-o0o-o0o-

 

PENGERTIAN BENDA PUSAKA DAN PELESTARIANNYA.

*). Pusaka adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu benda yang dianggap sakti, keramat, bertuah atau mistis. Biasanya benda-benda yang dianggap keramat disini umumnya adalah benda warisan yang dimiliki secara turun-temurun dan diwariskan oleh nenek moyangnya, baik dilingkungan masyarakat biasa apalagi dalam lingkungan keraton yang lebih banyak jenis dan ragamnya.

*). Meskipun tekonolgi sudah maju dan berkembang, namun kepercayaan akan hal-hal yang mistis atau benda bertuah masih tetap melekat di kehidupan masyarakat tertentu.  Hal tersebut dikarenakan khasiat atau efek dari benda pusaka itu sendiri yang membuatnya masih dipercaya oleh sejumlah orang tertentu. Oleh karena manfaatnya yang luar biasa maka banyak orang sangat bernafsu untuk mencari dan ingin memiliki benda-benda pusaka.

*). Sebuah benda apapun bentuknya, sebenarnya pasti memiliki sebuah “energy spiritual” tertentu. Dan benda tertentu tersebut akan memiliki keterlibatan dengan sejarah hidup seseorang.

Sebagai sebuah contoh, misalnya : Pada saat melihat sebuah cincin kawin, ingatan seseorang bisa langsung melayang pada saat pertama kali melamar istrinya.

Begitu pula pada saat melihat sebilah keris, ingatan seseorang bisa langsung melayang pada bagaimana kehebatan nenek moyang yang seorang empu berjuang mati-matian dengan cipta, rasa, karsa dan karya untuk membuat benda cagar budaya tersebut. Demikian dan seterusnya…

Energy spiritual yang melekat pada benda-benda itu bisa dideteksi dengan mempelajari latar belakang “ada”-nya benda tersebut. Itu lah sebabnya mengapa Tombak Kyai Pleret yang tersimpan di Kraton Yogyakarta dipercaya “sangat bertuah” karena memiliki sejarah yang panjang.

Atau misalnya lagi Keris Kyai Sengkelat, Keris Naga Sasra dan Sabuk Inten, Keris Empu Gandring, Keris Setan Kober, Keris Kolomunyeng , atau yang lain dan seterusnya…

*). Akan tetapi sifatnya jelas subyektif tergantung pada keyakinan dan pengalaman seseorang yang bersinggungan dengan nilai-nilai tersebut.

Sebagai tolok ukur yang eksak misalnya yaitu sudut tinjau ilmu fisika. Bahwa setiap benda memiliki kerapatan atom, energy dan massa tertentu yang berbeda-beda sehingga materi benda bisa diukur dengan alat ukur tertentu. Yang jelas, bila benda sudah diberi muatan nilai akan memiliki nilai subyektivitas tententu.

*). Namun, tidak bisa menutup mata dengan adanya ilmu batiniah atau dengan jalan mengoptimalkan peran batin untuk menerawang benda-benda bertuah ini. Ilmu batiniah adalah sebuah fakta yang ada di masyarakat dan hingga kini masih lestari. Ini adalah Budaya Spiritual Bangsa Indonesia yang tinggi nilainya.

Oleh karena itu seseorang tidak boleh menganggap bahwa budaya asing itu lebih bernilai. Menghargai budaya asing itu memang disarankan, namun akan lebih luhur lagi apabila menghargai juga hasil budaya nenek moyang sendiri.

*). Ada yang berpendapat bahwa yang dikatakan sebagai benda bertuah adalah apabila benda tersebut memiliki energi tertentu. Benda bertuah adalah benda yang sudah diberi energy atau diberi muatan nilai tertentu oleh seseorang. Nilai itu bisa berupa “kesaktian”, “kemanfaatan”, “keberkahan” dan sebagainya.

Benda yang dipercaya “bertuah” banyak wujudnya. Misalnya cincin bermata batu merah delima atau bermata batu akik yang dipakai sebagai jimat, keris dan senjata tradisonal lain yang dipakai sebagai sipat kandel atau piandel (pegangan), juga berbagai jenis bebatuan alami.

Terkait dengan soal bahan alamiah atau bebatuan alami, biasanya mengundung unsur bio elektrik tertentu yang memang bisa dimanfaatkan sebagai alat kesehatan.

Sebuah contoh dalam mendeteksi dengan cara mengoptimalkan peran batin sehingga mampu mengenali hal-hal sebagai berikut, misalnya : tentang hal-hal yang gaib atau mengenai nilai-nilai dari benda tersebut yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja.

Antara lain sebagai berikut :

*). Mengetahui apa yang ada di dalam benda tersebut , bisa cincin, bisa keris dan lain sebagainya.….

*). Bisa merasakan apakah benda tersebut memancarkan energy yang sifatnya terasa…dingin, panas, damai, kisruh, celaka, harapan, kasih sayang…dan sebagainya….

*). Mengetahui bahwa benda tersebut memencarkan sejarah tertentu, karena ia merekam dan menyerap fakta dan riwayat sejarah yang panjang.

*). Untuk mengetahui apakah benda tersebut bisa mendatangkan efek yang bersifat negative yang tidak di sadari.

*). Bisa merasakan apakah di dalam benda tersebut terdapat “sesuatu” dan “sesuatu” yang dimaksud adalah makluk halus atau jin.

Karena makhluk seperti ini bisa mendatangkan perasaan gelisah, anak atau istri tiba-tiba nakal, penghuni keluarga menjadi sakit-sakitan.

Namun disamping itu ada pula yang mendatangkan efek lain, misalnya mudah cari uang, enteng jodoh dan sebagainya.

 

Catatan :

Yang harus di ingat adalah bahwa semua kekuatan yang ada pada benda-benda tersebut karena seijin dan berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai salah, sehingga dalam menghargai benda-benda tersebut malahan melebihi menghargaan kepada Allah itu sendiri, dan hal ini menjadikan manusia Musyrik.

-o-

Harus diakui bahwa pelestarian pusaka rakyat Indonesia termasuk pemahaman penghargaan terhadap kekayaan pusaka seringkali diabaikan oleh banyak orang. Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran untuk mengenal, memahami, menghargai serta melestarikan pusaka rakyat Indonesia yang mempunyai nilai tinggi, ini.

Karena Bangsa Indonesia sering diresahkan oleh berita klaim Bangsa Asing terhadap Budaya Bangsa Indonesia yaitu Pusaka Budaya hasil cipta, rasa, karsa dan karya mencakup pusaka berwujud dan pusaka tidak berwujud. Oleh karena itu berbagai upaya pendataan dilakukan baik oleh pemerintah maupun organisasi pelestarian lainnya.

Dan masyarakat pun diharapkan bisa melibatkan diri secara aktif untuk melakukan pelestarian pusaka rakyat Indonesia yang di mulai dengan pemahaman tentang pusaka yang berada di lingkungan masyarakat.

-o-

 

PENGERTIAN SYRIK DAN MUSYRIK

Banyak orang menganggap bahwa pengertian Syrik dan Musyrik adalah sama, namun yang sebenarnya adalah berbeda.

Diperoleh penjelasan bahwa pengertian Syrik adalah suatu perbuatan yang menyekutukan Allah atau bisa juga diartikan dengan mempercayai/menyembah/meminta selain kepada Allah swt.

Sedangkan Musyrik adalah orang yang melakukan Syrik. Dalam ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Hadits dikatakan bahwa Syrik adalah merupakan dosa yang paling besar.

 

MUSYRIK

Dijelaskan pula bahwa Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah dengan apa pun. Jadi pengertian secara umum dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang musyrik, yaitu mereka yang disamping menyembah kepada Allah swt, juga menghambakan dirinya kepada yang lain-lain selain Allah baik dilakukan secara sadar maupun  dengan tidak disadari yang artinya bahwa apa yang dilakukan itu dikatakan sebagai mempersekutukan Allah.

Sedangkan yang dikatakan dengan mempersekutukan Allah itu bisa saja dilakukan dalam bentuk Kepercayaan, Ucapan maupun dalam bentuk Perbuatan.

Dalam bentuk Kepercayaan : misalnya ada yang meyakini bahwa dengan memakai cincin merah delima maka pemakainya dapat terhindar dari bahaya.

Dalam bentuk Ucapan : misalnya saja ketika membacakan suatu surat atau ayat tertentu seseorang itu bisa menyembuhkan orang sakit, maka untuk selanjutnya seseorang tadi sangat meyakini bahwa untuk menyembuhkan orang sakit dengan membacakan ayat atau surat tersebut. Jadi seseorang itu sangat mengandalkan ayatnya bukan kepada Pemilik Ayat tersebut atau Allah swt.

Dalam bentuk Perbuatan : misalnya sebagai seseorang yang beriman selalu menjalankan sariat agamanya dengan baik, tetapi dalam pelaksanaan kehidupannya sering juga meminta-minta dan mendatangi ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau dikeramatkan.

 

SYRIK

Syrik sendiri berasal dari  kata syarikah atau persekutuan. Syrik adalah akhlak atau perilaku yang menyembah atau menyekutukan atau tunduk , taat secara sadar maupun tidak sadar dengan sukarela kepada sesuatu selain Allah dan ini merupakan dosa yang paling besar.

Contoh-contoh Syrik antara lain :

  1. Menyembah sesuatu selain Allah.

Menyembah benda-benda, patung, batu, pohon, kubur atau bahkan memuja kepada  binatang dan lain-lainnya. Mereka percaya bahwa benda atau maklhuk tersebut adalah sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan.

  1. Mempertuhankan Manusia

Mempertuhankan manusia atau mengagungkan dan meninggikan derajat manusia, baik dia sebagai pemuka agama, ulama, pendeta, para auliya, para solehin dan sebagainya serta menempatkan pada kedudukan yang bukan sepatutnya, kecuali Allah swt.

Namun pada prakteknya dalam kehidupan sehari-hari terkadang sulit untuk menentukan dengan apa yang telah dilakukan, apakah si A itu tergolong musryik, karena apa yang tampak dan kelihatan dalam pandangan mata lahir manusia belum tentu kebenarannya.

Kalau jaman dahulu untuk membedakan antara orang beriman dan orang musyrik sangat mudah dan jelas karena dapat dilihat dari perilakukanya atau apa yang dilakukannya, tetapi untuk masa sekarang sulit, karena yang dilakukan tidak nampak dengan jelas atau sangat tipis dan serba samar.

Contoh-contoh yang tidak mudah untuk dibedakan :

*) Misalnya saja ada seseorang yang sedang duduk diam dan termenung, mungkin ada orang lain yang melihat dan mengatakan bahwa dia itu sedang melamun karena memang itu yang tampak oleh mata lahir manusia. Tetapi hal itu belum tentu benar karena mungkin saja bahwa dia sedang berdoa dalam hati, instropeksi diri atau sedang berdialog atau menyampaikan sesuatu kepada penciptanya dalam hati.

*) Ada yang mengenakan cincin dengan batu alam sebagai hiasannya, sementara ada orang yang senang atau menyukai karena segi artistiknya atau keindahannya namun ada pula yang memang mengandalkan tuah dari batu tersebut. Sepintas tidak terlihat niatan seperti itu dan hanya bisa dibedakan bila melihat perilakunya.

*) Dalam melakukan ziarah, ada yang niatnya mendoakan dan mengenang perbuatan baik pada masa hidupnya serta ingin mengikuti teladan yang baik itu sementara ada juga yang ziarah untuk meminta berkah. Padahal hanya Allah Swt. yang bisa memberi berkah, bukan dari orang yang sudah mati, siapapun dia. Niatan seperti ini pun tidak terlihat karena di lakukan dalam hatinya.

*) Dalam melakukan dzikir, ada yang melakukan dengan pikiran serta hatinya hanya ingin dan mau mendekatkan diri serta mengharap pengampunan dari pencipta-Nya, sementara itu ada pula yang melakukan dzikir hanya untuk memperoleh kekuatan. Niatan seperti ini sulit dibedakan karena tidak terlihat oleh pandangan mata lahir.

Begitu pula sebaliknya, bila ada seseorang seperti dalam cerita diatas dimana Larashati yang merawat sebilahg keris, mungkin saja orang akan dengan mudah akan mengatakan musyrik atau menyembah berhala dan sebagainya, karena demikian itu yang memang nampak dalam pandangan mata lahir manusia.

Padahal bisa juga yang terjadi bahwa Larashati mempunyai niat hanya ingin melaksanakan amanat untuk merawat keris tersebut atau hanya mau melestarikan hasil budaya saja.

Jadi jelasnya andaikata bisa menyadari, maka akan sangat sulit untuk menjatuhkan tuduhan seperti yang dilakukan oleh Larashati itu sebagai menyembah berhala atau bukan, karena pandangan mata seringkali salah.

Oleh karena itu jangan mudah memuji, karena hanya Allah yang patut dipuji atau jangan mudah menuduh karena tidak tahu persis hal yang sebenarnya. Kalau apa yang dilakukan itu dipandang memang baik bisa kita tiru atau ikuti tetapi kalau tidak baik tidak usah diperhatikan dan tinggalkan.

Kalau ada orang yang dengan gampang menjatuhkan sebuah tuduhan itu karena sudah berpikiran negative atau sebelumnya sudah didasari oleh rasa yang kurang senang dan pemikiran yang kurang baik kepada yang bersangkutan sehingga hasilnya pun seringkali akan salah.

-o-

Sebuah anekdot sebagai sebuah contoh, bahwa terkadang pemikiran manusia itu sudah memutuskan terlebih dahulu atau mengkira-kira walau pun belum jelas permasalahannya dan lebih sering menjurus kearah yang bernada negatif, tetapi ternyata bahwa hal itu adalah salah :

Begitu keluar dari sebuah Apotik, Kardun langsung menemui Mukidin.

Mukidin : “Kardun kamu beli obat apaan sih ? Kok lama-lama amat.”
Kardun : “Bukan karena obatnya yang susah dicari, Mukidin.”
Mukidin : “Lalu karena apanya ?”
Kardun : “Karena pelayannya.”
Mukidin : “Hah, memang kenapa dengan pelayannya ?”
Kardun : “Pelayannya, nggak pakai BH, Din.”
Mukidin : “Wushh..Gilee, kenapa kamu nggak kasih tahu saya. Kan saya bisa ikutan masuk kedalam. Ngomong-ngomong kamu kenal dengan dia dan siapa nama pelayan yang nggak pakai BH itu, Dun  ?
Kardun : “Namanya, Asep Nugraha….., Din.”
Mukidin : “Busyeeeeet….. aku kira..!!”

 

-o-

Demikian pula perilaku seseorang yang mengagungkan tokoh idolanya tanpa terasa taat yang berlebihan tanpa menggunakan pemikiran lagi, seperti pengertian diatas orang seperti itu pun bisa dikatakan musyirik, tetapi apabila diperingatkan dia akan membantah dan melawan dengan menggunakan berbagai macam alasan.

Begitu pula hal nya dengan diri kita sendiri karena perilaku yang seperti itu terkadang sangat tidak terasa dan sulit disadari, sekan-akan semuanya sudah menggunakan pertimbangan akal dan pemikiran yang benar.

Oleh karena itu berdasarkan uraian atau keterangan diatas, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga diri kita masing-masing agar jangan sampai terjebak dalam situasi atau perilaku yang dapat dikatagorikan sebagai musryik serta jangan pula memperhatikan atau mengurusi orang lain.

Sebuah Nasehat yang bijaksana :

“Jangan Mengawasi Orang Lain, Jangan Mengintai Geraknya, Jangan Membuka Aib nya, Jangan Menyelidikinya.

Sibuklah dengan Diri Kalian sendiri, Perbaiki Aib dan Salah mu,

Karena Kelak Kau Akan di Tanya (Allah) tentang Dirimu Sendiri, Bukan tentang Orang Lain.

(Sayyidina Ali bin Abu Tholib R.A.)

BANDUNG – INDONESIA, AGUSTUS – 2017

Cerita :  Ary Nurdiana

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

SEBUAH PILIHAN

KEBAHAGIAAN ITU ADALAH PILIHAN DAN BUKAN MERUPAKAN SEBUAH PEMBERIAN, JIKA INGIN BAHAGIA TANYALAH HATI SENDIRI. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DAPAT MEMBUAT SESEORANG MENJADI BAHAGIA, SELAIN DIRINYA SENDIRI. OLEH KARENA ITU SALAHKAN DIRI SENDIRI JIKA TIDAK BAHAGIA, KARENA BUKAN ORANG LAIN YANG MEMBUATNYA MENDERITA. Read more »

KESEMPURNAAN

YANG TERBAIK, DAN BERBUAT BAIK SAAT INI, ESOK HARI DAN SETERUSNYA. DAN TIDAK USAH BERANGAN-ANGAN UNTUK MENJADI SEORANG YANG SEMPURNA. CUKUP MENSYUKURI ANUGERAH ALLAH YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA KITA SERTA MEMPERGUNAKAN SEBAIK-BAIKNYA TANPA MELANGGAR ATURAN-ATURAN YANG TELAH DITETAPKAN.

JIKA SUATU SAAT TERNYATA BERBUAT SALAH MAKA SEGERALAH BERTAUBAT DAN BERJANJI TIDAK AKAN MENGULANGI KESALAHAN TERSEBUT. Read more »

GARA-GARA TJING-TJING

DIKATAKAN BAHWA SEBAIK-BAIKNYA MANUSIA JIKA MANUSIA ITU MEMPUNYAI MANFAAT BAGI MANUSIA YANG LAIN ATAU MENJADI BERKAT BAGI MANUSIA YANG LAIN. MISALNYA SAJA DENGAN MEMBANTU ORANG LAIN, NAMUN ANDAI KATA TIDAK BISA MEMBANTU SETIDAKNYA JANGAN MENYAKITINYA.

TIDAK ADA YANG SALAH JIKA KITA SEBAGAI MANUSIA MERASA PEDULI PADA MANUSIA YANG LAIN, TETAPI YANG SALAH ANDAI KATA MENGHARAPKAN ORANG LAIN JUGA MELAKUKAN HAL YANG SAMA KEPADA KITA.

KITA BISA BELAJAR DARI JAM DINDING, DILIHAT ORANG ATAU PUN TIDAK, IA TETAP BERDENTING. DIHARGAI ORANG ATAU PUN TIDAK IA TETAP BERPUTAR. WALAU TAK SEORANG PUN MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IA TETAP BEKERJA, SETIAP JAM, SETIAP MENIT, BAHKAN SETIAP DETIK

OLEH KARENA ITU TERUSLAH BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA, MESKIPUN PERBUATAN BAIK KITA ITU TIDAK DINILAI.

Read more »

HARIMAU PUTIH

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI MASYARAKAT BISA DIJUMPAI ADA ORANG BODOH YANG INGIN DIANGGAP PINTAR, KEMUDIAN DIA BERKOAR-KOAR SEAKAN SUDAH TAHU SECARA KESELURUHAN TENTANG ISI SESUATU PERMASALAHAN PADAHAL DIA BARU TAHU KULITNYA SAJA.

ATAU BISA JUGA DIJUMPAI ADA SEORANG YANG LUPA PADA KEADAAN DIRINYA SENDIRI YANG SELALU MENCARI KELEMAHAN ATAU KEKURANGAN ORANG LAIN TETAPI TIDAK PERNAH MELIHAT KELEMAHAN ATAU KEKURANGAN PADA DIRINYA SENDIRI DAN KEMUDIAN MERASA DIRINYA PALING SEMPURNA.

HARUS JUGA DIKETAHUI BAHWA YANG HIDUP DI BUMI INI DISAMPING MANUSIA, HEWAN DAN LAIN-LAIN  YANG KASAT MATA TERDAPAT JUGA MAKHLUK LAIN YANG HIDUP BERDAMPINGAN DI BUMI YANG SAMA NAMUN KEBERADAANNYA TIDAK BISA DIJANGKAU OLEH PANCA INDERA MANUSIA.

Read more »

FIRASAT

firasatFIRASAT ADALAH SUATU KEMAMPUAN DARI DALAM DIRI SESEORANG UNTUK MERASAKAN ATAU MEMBACA TANDA-TANDA TENTANG APA YANG AKAN TERJADI.

BOLEH PERCAYA BOALEH JUGA TIDAK, BAHWA SEBENARNYA SETIAP ORANG MEMILIKI KEPEKAAN TERHADAP SESUATU HAL YANG SEDANG ATAU AKAN TERJADI, NAMUN DALAM KADAR KEMAMPUAN YANG TIDAK SAMA BESAR.

PERLU JUGA DIKETAHUI, SEBUAH FIRASAT BIASANYA DAPAT DIRASAKAN OLEH DIRINYA SENDIRI, BAHKAN JUGA TERHADAP KELUARGA, TEMAN ATAU SIAPAPUN YANG MEMILIKI KEDEKATAN ATAU HUBUNGAN BATIN.

Read more »